Featured Post Today
print this page
Latest Post

Pengertian, Pengelompokan, dan Struktur Pura

Prāsādaṁ yacchiva śaktyātmakaṁ
Tacchaktyantaiḥ syādvisudhādyaistu tatvaiḥ,
Śaivi mūrtiḥ khalu devālayākhyetyasmād
Dhyeyā prathanaṁ cābhipūjyā.

(Īśānaśivagurudevapaddhati, III.12.16)

Artinya:
Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Śiva dan Śakti dan kekuatan/prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari element hakekat yang pokok, Pṛthivī sampai kepada Śakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Śiva merupakan sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.



Pengertian Pura
Isilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura berasal dari kata sanskerta itu berarti “kota” atau “benteng”, yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk menamani tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang. Pada zaman Bali Kuna dan merupakan data tertua ditemui di Bali, disebutkan di dalam Prasasti Sukawana A I tahun 882 M.

Di dalam Prasasti turunya A I tahun 891 M ada disebutkan “… sanghyang di Turun͂an” yang artinya “tempat suci di Turunyan”. Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A (tanpa tahun) disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api, dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk Dewa Karimana, tempat suci untuk Dewa Api, dan tempat suci untuk Dewa Tanda.

Pura seperti halnya meru atau caṇḍi (dalam pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa) merupakan symbol kosmos dari atau alam sorga (kahyangan), seperti pula diungkapkan oleh Dr. Soekmono pada akhir kesimpulan disertasinya yang menyatakan bahwa caṇḍi bukanlah sebagai makam, maka terbukalah suatu perspektif baru yang menempatkan caṇḍi dalam kedudukan yang semestinya (sebagai tempat pemujaan/ Pura). Untuk mendukung bahwa Pura atau tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat dilihat dai bentuk (struktur), relief, gambar, dan ornament dari sebuah Pura atau caṇḍi. Pada bangunan suci seperti caṇḍi di Jawa kita menyaksikan semua gambar, relief, dan hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk sorga, seperti arca-arca devatā, vahana devatā, pohon-pohon sorga (pārijāta, dan lain-lain), juga mahluk-mahluk suci seperti vidyādhara-vidyādharī dan kinara-kinarī, yakni seniman sorga, dan lain-lain.

Dalam perkembangan lebih lanjut kata Pura digunakan di samping kata kahyangan atau parhyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala menifestasinya) dan bhaṭṭāra atau dewapitara yaitu roh suci leluhur. Kendati demikian namun kini masih dijumpai kata Pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misalnya Amlapura atau kota asem (bentuk sanskertanisasi dari karang asem).

Meskipun istilah Pura sebagai tempat suci berasal dari zaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur di samping juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenalnya pada zaman neolithikum, dan berkembang pada periode megalithikum, sebelum kebudayaan India datang di Indonesia.

Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah, adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menggangap gunung (Mahameru) sebagai alam devata yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para devata.

Pengelompokan Pura
Dari berbagai jenis Pura di Bali dengan pengertian sebagai temoat suci untuk memuja Hyang Widhi/ dewa dan bhaṭṭāra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu; (1) Pura yang bersfungsi sebagai tempat untuk memuja Hyang Widhi, para devatā; (2) Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaṭṭāra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok Pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula Pura yang berfungsi gandha yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi/ dewa juga untuk memuja bhaṭṭāra. Hal itu dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tersebut telah mencapai tingkat śiddhadevatā (telah memasuki alam devatā) dan disebut bhaṭṭāra.

Fungsi Pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti; ikatan social, politik, ekonomi, genealogis (garis kelahiran). Bedasarkan atas ciri-ciri tersebut, maka terdapat beberapa kelompok Pura berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya, sebagai berikut:

1. Pura Umum
Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala menifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tergolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah Pura Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala, dan Pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah Pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pandita guru suci atau Dang Guru. Pura tersebut juga dipuja oleh semua umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama. Pura yang tergolong ke dalam karakter yang disebut Dang Kahyangan, yaitu: Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan, Pura Silayukti, Pura Lempuyang.

2. Pura Teritorial
Pura ini mempunyai ciri kesatua wilayah (territorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa. Ciri khas suatu desa pada dasarnya memiliki tiga buah Pura yang disebut Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Ada banyak macam Pura Dalem. Namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki setra (kuburan).

3. Pura Fungsional
Pura ini mempunyai karakter fungsional karena adanya ikatan kekaryaan, profesi yang sama dalam system mata pencaharian hidup seperti; bertani, berdagang, dan nelayan. Kekaryan karena bertani, mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Kemudian dalam ikatan kekaryan sebagai pedagang maka tempat pemujaannya disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

4. Pura Kawitan
Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura milik warga atau Pura Klen. Klen ini mempunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadya sehingga mereka disebut Tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family). Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau merajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan keluarga luas/besar disebut sanggah gede atau pamarajan agung.

Di dalam lontar Sivagama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura Ibu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih prthivi, dan setiap keluarga batih membuat palinggih kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci.

Tentang pengelompokan Pura di Bali, dalam Seminar Kesatuan Tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke-X tanggal 28-30 Mei 1994 ditetapkan kelompok Pura di Bali, sebagai berikut:

1. Bedasarkan atas fungsinya:
  • Pura Jagat, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa-Nya (manifestasinya).
  • Pura Kawitan, yaitu Pura sebagai sebagai tempat suci untuk memuja ātmāśiddhadevatā (roh suci leluhur).
2. Berdasarkan atas karakterisasinya:
  • Pura Kahyangan Jagat, yaitu Pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Kahyangan Jagat.
  • Pura Kahyangan Desa (teritorial), yaitu Pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa pakraman atau desa adat.
  • Pura Swagina (Pura Fungsional), yaitu Pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti; Pura Subak, Pura Melanting, dan sebagainya.
  • Pura Kawitan, yaitu Pura yang penyungsungnya ditentukan oleh ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal genelogis) seperti; sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, penataran, pedharman, dan yang sejenisnya.

Struktur Pura
Pada umumnya struktur atau denah Pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jaba pura atau jaba pisan (halam luar), jaba tengah (halaman tengah), dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga Pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halangan ;uar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti Pura Agung Besakih. Pembagian halaman Pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuawana agung), yakni: pembagian atas tiga bagian (halaman) itu adalah lambing dari triloka, yaitu: bhūrloka (bumi), bhuvaḥloka (langit), dan svaḥloka (sorga). Pembagian Pura atas dua halaman melambangkan alam atas (urdhaḥ) dan alam bahwa (adhaḥ), yaitu: ākāśa dan pṛthivī. Sedang pembagian Pura atas tujuh bagian atau halaman atau tingkatan melambangkan saptaloka, yaitu tujuh lapisan/ tingkatan alam atas, yaitu; bhūrloka, bhuvaḥloka, svaḥloka, mahāloka, janaloka, tapaloka, dan satyaloka. Dan Pura yang terdiri satu halaman adalah simbolis dari ekabhuvana, yaitu penunggalan antara alam bawah dan alam atas.

Pembagian halaman Pura umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan prakeṛti (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis purusa (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta).

Sebuah Pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker) sebagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah padurakṣa (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpālaka). Pada halaman jaba pisan (halam luar) terdapat bangunan berupa bale kulkul (bale tempat kentongan digantung), bale wantilan (semacam auditorium tempat pementasan kesenian), bale pawaregan (dapur), jineng (lumbung). Halam kedua jaba tengah (halam tengah) biasanya berisi bangunan bale agung (bale panjang) dan bale pagongan (bale tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam), halam ini merupakan halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya bersthana. Di antara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung.

Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung, terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaaan atau jaba pisan). Candi bentar ini adalah simbolis pencahnya gunung Kailāsa tempat bersemadhinya dewa Śiva. Dibagian kiri dan kanan candi bentar terdapat arca Dvārapāla (patung penjaga pintu, bahasa Bali ngapit lawing), berbentung raksasa yang berfungsi sebagai pengawal Pura.

Pintu masuk halaman jeroan disamping disebut kori agung, juga dinamakan gelung agung. Kori agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di Pura. Untuk penyungsung (pemilik Pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar masuk ke jeroan, tapi biasanya menggunakan jalan kecil yang disebut bebetelan yang terletak disebelah kiri dan kanan kori agung.

Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) terdapat juga arca Dvārapāla yang biasanya bermotif acra deva-deva. Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala rakṣasa, yang pada Pura atau candi di India disebut Kīrttimukha, pada ambang candi pintu masuk candi di Jawa Tengah disebut Kāla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Bānaspati, dan di Bali disebut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomāntaka (matinya Sang Bhoma) dapat dijumpai di Kakawain Bhomāntaka atau Bhomakāwya. Bhoma adalah Putra Deva Viṣṇu dengan ibunya Dewi Pṛthivī yang berusaha mengalahkan sorga dan akhirnya dibunuh oleh Viṣṇu sendiri. Menurut cerita Hindu, penempatan kepala rakṣana Bhoma atau Kīrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang mermaksud jahat masuk ke dalam Pura, dihalangi oleh kekuatan rakṣasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk ke dalam Pura akan memperoleh rakhmat-Nya.

Sumber: Buku Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu


2 komentar

Vishuddha Chakra

“Vishuddha adalah chakra kelahiran kembali spiritual. Ini meliputi lima bidang: fisik, astral, selestial (angksa), keseimbangan, dan manusia. Ini juga termasuk jnana, kesadaran yang menganugerahkan kebahagiaan; prana, kekuatan hidup yang vital di seluruh tubuh yang membawa keseimbangan semua elemen; apana, udara yang membersihkan tubuh dan diisi dengan ion negatif; dan vyana, udara yang mengatur aliran darah. Bidang atau wilayah manusia (jana loka) menjadi vital, diperkaya dengan mantra, suara musik, dan enam belas kualitas harmoni (vrittis)”. Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

Kita memasuki dunia akasha, ruang atau kehampaan, elemen paling murni, di mana empat elemen lainnya muncul. Akasha muncul dari nada, suara kosmik murni, dilambangkan dengan bulan sabit. Diwakili oleh lingkaran, akasha memiliki banyak bentuk — mulai dari ruang di antara atom hingga kehampaan dalam bejana, dan dari ruang halus yang diciptakan oleh pengulangan-mantra sampai kehampaan kosmik tertinggi, di mana tidak ada apa pun kecuali ruang.

Pada tingkat ini kita bersentuhan dengan pengetahuan murni, yang kita perlukan untuk melepaskan Wisnugranthi, simpul yang mengikat kita pada keragaman di dalam persatuan. Dalam chakra ini kita menemukan kesatuan dalam keragaman. Vishuddha mendominasi antara usia 24 dan 30 untuk wanita dan 28 dan 35 untuk pria.

Dalam chakra anahata kita menemukan keindahan, kebaikan dan kebenaran di luar diri kita. Sekarang, dalam chakra kelima, kita menjadi tahu bahwa Yang Suci ada di dalam kita, bahwa kita suci; sebagaimana di luar, demikian juga di dalam. Ketika tidak lagi terganggu oleh kebisingan luar, kita mendengar suara batin kita sendiri: detak jantung, pernapasan, cairan dan gas. Orang yang terbangun akan mendengar musik, mantra dan nada-nadi shakti yang kuat, yang terdengar seperti seribu vina yang bermain di kejauhan, atau keriapan lebah madu di dekat kita.

Para rsi dari dunia kuno membedakan suara dasar untuk menciptakan matrika, 50 huruf dari abjad Sanskerta. Satu matrika terhubung ke masing-masing dari 50 kelopak teratai di enam chakra pertama. Bekerja dengan suara-suara ini adalah salah satu cara terbaik untuk menyeimbangkan chakra.

Mulailah dengan chakra pertama dan bergerak ke atas, satu chakra pada satu waktu, berakhir dengan Aum di ajna. Meditasi ini membuat seseorang merasa membumi, berpijak kokoh, dan siap untuk bermeditasi pada mata ketiga. Di sini kita menjadi sadar bahwa semua pengetahuan ada di dalam diri kita.


Sifat binatang gajah, yang berlaku dalam chakra ini, juga menunjukkan pengetahuan. Setelah chakra ini, tidak ada lagi hasrat hewan. Kekuatan gajah, simbol pengetahuan di sini, diperlukan untuk menghadapi dunia indra. Dari gajah kita bisa belajar bersabar, memiliki kepercayaan diri, mengingat apa yang telah kita pelajari dan menikmati kesatuan kita dengan alam.

Dengan kebijaksanaan ini kita dapat bertahan hidup di dunia material. Tetapi untuk melangkah lebih tinggi kita membutuhkan seorang guru. Dewata dari chakra ini adalah Panchavaktra Siva. Dalam Tuhan berwajah lima ini kita menemukan guru, yang membantu kita menyadari sifat sejati kita. Kegelapan spiritual kita berakhir di chakra ini, yang merupakan sumber dari semua ajaran dharma besar. Pada tahap ini Siva mengungkapkan kasih karunia-Nya dan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak pernah terpisah dari-Nya.

Ini adalah chakra guru spiritual. Bahkan mereka masih memiliki tantangan, keterikatan pada keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, keterikatan pada posisi yang masih duniawi ini. Dan bahkan ada bahaya untuk menyalahgunakan pengetahuan mereka atau berhenti mempraktikkan ajaran itu sendiri. Dalam pakaian sederhana Siva kita dapat mengumpulkan aksioma yang paling penting untuk chakra ini: hidup sederhana dan pemikiran yang tinggi. Simple living and high thinking. Tanpa gangguan dari dunia kemewahan, kita lebih mampu membuat dorongan yang tak terikat.

Shakini, yang sangat mirip Saras- vati, adalah penjaga pintu untuk cakra vishuddha. Dia mewakili pengetahuan di balik pendidikan dan seni rupa, dua alat penting dalam chakra ini, tidak hanya pendidikan sekolah, tetapi juga pendidikan budaya, belajar menjadi ayah atau ibu yang baik, saudara laki-laki atau perempuan, teman dan tetangga. Seni tertinggi adalah seni hidup.

Seni dan kerajinan tangan adalah bagian dari dan mendukung pendidikan budaya. Untuk menguasainya kita perlu meningkatkan konsentrasi kita. Dalam seni dan kerajinan kita belajar dengan cara yang menyenangkan untuk menarik diri dari indra. Saat membuat, kita melupakan semuanya dan fokus pada satu subjek. Pada saat itu tidak ada ego, dan seni bisa menjadi inspirasi.

Lalu kita bisa bermain dengan mimpi dengan cara yang kata-kata tidak bisa. Atau kita menggunakan puisi. Sebagian besar teks-teks religius ditulis dalam gaya puitis atau kisah-kisah seperti mimpi dengan pesan-pesan tersembunyi yang mendalam. Shakini memperkenalkan kita kepada dunia keheningan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata, dan mengungkapkan pentingnya pesan non-verbal, seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah.

Pengetahuan belum sepenuhnya terwujud dalam chakra ini. Kita telah menjadi sadar akan keberadaannya, tetapi kita masih berada di dunia hasrat dan karma yang mereka ciptakan. Ketika kita menemukan pengetahuan, ketidaktahuan juga muncul. Itu bukan di alam, tetapi di dalam diri kita, di dalam pikiran kita. Banyak pendidikan diperlukan, dan Shakini ada di Sana untuk memberikannya.

Dalam chakra kelima kita menjadi sadar bahwa untuk mengendalikan indra, kita harus mengendalikan pikiran kita. Patanjali menyebut ini pratyahara, penarikan indra. Kita semua tahu betapa sulitnya ini. Mencari kontrol, kita melatih penarikan indera dalam meditasi. Kita juga melatihnya dalam seni rupa dan karma yoga kehidupan sehari-hari.

Ketika kita sangat terlibat dengan musik, melukis, memahat, animasi, berkebun, memasak, perencanaan dan pengorganisasian, tidak ada yang lain. Setiap kali kita terserap dalam sesuatu, penarikan indra terjadi. Kita belajar bahwa konsentrasi yang dalam dengan daya serap sempurna ada dalam genggaman kita.

Kita dapat bekerja lebih langsung lagi dalam mengendalikan pikiran dengan menggunakan penahanan nafas (kumbhaka). Di sini tujuan utamanya adalah untuk menarik pikiran dalam Diri. Latihan lain untuk tetap fokus pada Diri adalah japa, atau pengulangan-mantra. Setelah bertahun-tahun belajar mendalam, kita siap untuk beberapa praktik sesungguhnya dalam chakra ajna.

Haus untuk pengetahuan sejati, pencari memasuki dunia para guru. Pustaka suci dipelajari pada tahap ini, teks-teks suci yang mengandung semua pengetahuan masa lalu, yang diwakili oleh gajah. Di sini puisi dan filsafat spiritual disusun. Dalam karya seni ini, Pieter telah melukis tiga figur dari kehidupannya sendiri: Harish Johari, gurunya, di tengah; Narmada Puri, seorang sadhu dan guru Jerman, di sebelah kanan; dan di sebelah kiri Santoshpuri, seorang tuan legendaris.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 176, Oktober 2018

0 komentar

Anahata Chakra

“Chakra hati (jantung, heart) dihormati sebagai pusat bhakti (pengabdian) dan transformasi dalam banyak tradisi spiritual. Ia bersinar seperti permata di pusat tulang belakang, dengan tiga chakra di atas dan tiga cakra di bawah. Ini disebutkan dalam kitab suci Tantra, Purana dan Veda dengan beberapa nama yang berbeda. Sufi dan mistik dari tradisi lain menginstruksikan murid-murid mereka untuk memvisualisasikan cahaya yang jelas di dalam hati ketika memulai praktik meningkatkan kekuatan Kundalini dan memasuki tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Di sinilah nada anahata — suara kosmik yang tak bergerak — dihasilkan. ” Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

Dalam chakra ini kita mulai mengalami keseimbangan antara energi pria dan wanita, yang dilambangkan oleh hexagram, yang merupakan penggabungan dua segitiga. Tindakan dan pikiran difokuskan untuk mencapai keseimbangan ini. Di sini kita memiliki pengalaman pertama dengan Yang Suci, yaitu anahata, artinya “tidak terhalang,” “tidak terluka” atau “tidak terkalahkan”. Kita merasa bahagia. Chakra ini dominan untuk perempuan antara usia 18 dan 24 tahun dan laki-laki usia 21 hingga 28 tahun. Untuk ibu-ibu anahata terbuka secara otomatis. Sifat hewan di sini digambarkan dengan baik oleh antelope hitam. Ia berjalan dengan gelisah tetapi selalu dalam sukacita, mencari sumber bau harum (musk) yang berada di pusarnya sendiri.

Bergabung dengan ashram, biara atau organisasi yang melayani kebaikan kosmik, kita mengalami kondisi keseimbangan dan kesatuan yang bahagia dengan semua. Bermeditasi dengan kelompok membantu kita mencapai level grup. Dalam chakra ajna kita bermeditasi sendiri untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Dalam chakra anahata kita mengalami sesuatu yang kita sukai, tetapi lebih banyak studi diperlukan. Kita resah untuk menemukan sumber kebahagiaan, mencari di mana-mana dengan penuh kesenangan di hati kita.

Dalam tiga chakra pertama, ego terhubung dengan dunia material, untuk keamanan, keindahan luar dan nama dan ketenaran dunia. Di sini, di chakra keempat, ego terbuka untuk tujuan yang lebih besar, dan bukannya egois, ia merasa satu dengan semua. Orang suci dan orang yang suka kesucian tinggal di sini. Di sini kita dapat mencapai keseimbangan antara idealisme dan materialisme, pemikiran tinggi, dan tindakan kreatif.

Seperti halnya antelop, kita menemukan bahwa sukacita ini ada di dalam diri kita. Di pusat anahata kita akan menemukan chakra tambahan, ananda kanda, hati spiritual kita. Dalam semua kondisi, bangun dan bermimpi, Diri kita yang abadi selalu ada, selalu bertugas untuk melayani semua. Terkadang kita mungkin mengalami kehadiran ini dan mengambil tindakan tanpa pamrih.


Secara bertahap pemahaman kita tentang Diri abadi kita menjadi lebih jelas. Seperti Sadasiva, ia muncul dalam Bana Lingam sebagai dermawan abadi yang memiliki belas kasih bagi setiap makhluk. Dari-Nya kita menerima kekuatan bahasa, yang dengannya kita mengekspresikan pemahaman kita tentang dunia kausal. Dari sinilah muncul inspirasi untuk menulis. Dia adalah guru di dalam diri kita yang bekerja sebagai hati nurani kita, suara batin yang menginspirasi yang menyertai kita setiap langkah dalam hidup kita. Memperingatkan ketika kita membuat kesalahan, kita mulai memahami karakter sejati kita dan menginternalkan kode moral (yama dan niyama). Ini membawa kita ke dalam kebahagiaan abadi di balik segalanya.

Kebahagiaan abadi adalah sifat dari Dewa utama chakra ini: Ishana Rudra Siva, sang yogi utama dan sumber kebaikan. Ada keseimbangan dan harmoni di dalam dan di luar kita. Kita menikmati hubungan murni. Kita menerima, dalam chakra ini, instruksi spiritual pertama dari guru, ashram atau organisasi kita. Sambil melatih mereka, kita mencapai keseimbangan dan mengalami kebahagiaan. Shakti yang membuka pintu bagi kita adalah Kakini.

Kelopak teratai dari chakra ini mewakili 12 modifikasi mental: harapan, kecemasan, upaya, kepemilikan, keangkuhan, ketidakmampuan, diskriminasi, egoisme, nafsu, kecurangan, ketidaktegasan dan penyesalan. Psikodrama masih berlangsung; tetapi dengan bantuan Kakini kita mulai melihat modifikasi ini sebagai ketidaksempurnaan yang diciptakan oleh keterikatan kita sendiri.

Kita ingin sekali untuk lebih menguasai pikiran ini. Pranayama dan kumbhaka (menahan napas) membantu menenangkan pikiran. Ketika tidak ada nafas, tidak ada pikiran. Ketika nafas lambat, pikiran menjadi lambat. Ketika kita hanya berkonsentrasi pada nafas, kita dapat mengalami sedikit waktu tanpa pikiran. Ketika kita melakukan sadhana, atau latihan spiritual, kita dapat memperpanjang konsentrasi dan mengalami meditasi.

Kemudian alih-alih memegang identifikasi yang salah dengan dunia maya, Kakini dapat menunjukkan kepada kita permainan suci (lila) dalam ilusi yang tampaknya kacau ini (maya) yang diciptakan oleh Wisnu. Juga Dia bersemayam di dalam hati spiritual kita dalam bentuk Narayana, atau inkarnasi manusia. Untuk menemukan Dia hidup kita harus menjadi ibadah ketika melakukan tugas kita (karma yoga) dalam keluarga dan masyarakat. Maka itu menjadi lila (leela), permainan suci.

Agama sekarang menjadi terinternalisasi. Mengikuti jalan spiritual diperlukan untuk menemukan kedalaman lila. Menyerahkan diri kepada seorang guru yang telah mengikuti jalan itu sangat membantu untuk memiliki keyakinan di jalan itu dan untuk menghapus ketidaktahuan yang membuat maya terlihat begitu nyata. Untuk mencapai hal ini kita membutuhkan bhakti atau devosi spiritual, esensi dari chakra ini. Untuk mengalami bhakti ini,

Kakini membawa kepada kita bentuk-bentuk seni dan kerajinan devosional dan spiritual serta kesenangan mereka. Seni duniawi dari chakra kedua diubah menjadi kesaduan dan seni yang terinspirasi dari chakra keempat.

Dewi terakhir, Kundalini Shakti, mewakili pengabdian atau bhakti ini. Sekarang Dia duduk di segitiga yang mengarah ke atas. Dalam chakra pertama Dia adalah ular yang berbahaya. Di sini Dia menjadi Dewi. Dia mewakili sisi kesaduan (kesucian) dari ego kita, yang merindukan persatuan dengan Tuhannya, atau Diri abadi kita. Ini seperti Radha dengan cinta sucinya-Nya bagi Krishna. Kita tidak lagi menjadi korban keinginan yang terhubung dengan dunia material ketika kita mampu menyerahkan ego kita. Kemudian kita dapat mengalami cinta suci (prema) di mana-mana, dalam segala hal dan untuk semua orang.

Untuk melanjutkan jalan kita, Kundalini Shakti memberi kita alat-alat penting. Sebagai Dewi wicara dan suara, mewakili anahata nada atau suara kosmik, Dia menyediakan kita dengan 50 matrika dan semua mantra. Dalam pengaturan (penyesuaian) grup, kita belajar untuk bermain dengan mereka. Bhajan dapat membantu kita mengalami dunia yang damai dan bahagia tanpa pikiran. Tidak ada lagi penghakiman nilai (value judgment), terhadap orang lain, tetapi pikiran yang terbuka. Kita siap memasuki chakra kelima untuk mempelajari lebih lanjut tentang suara-suara ini.

Bija-mantra utama di sini adalah ham. Itu membuat suara manis dan merdu. Suara biji kelopak adalah am, im, mm, um, um, rm, rm, lrm, lrm, em, aim, om, aum, anusvara itu sendiri dan ah. Di sini kita bisa, seperti burung merak, menjadi sangat bangga dengan pengetahuan kita — atau ditangkap oleh suara, seperti seekor rusa di India terseret ke dalam perangkap oleh musik sending.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 175, September 2018

0 komentar

Manipura Chakra

“Kata chakra juga menunjukkan gerakan. Chakra memperkenalkan gerakan karena mereka mengubah energi psikofisik menjadi energi spiritual. Energi psikofisik hersifat elektrokimia, dan bekerja dengan bantuan prana. Prana adalah energi yang menciptakan kehidupan, materi, dan pikiran. Kata prana berarti 'kekuatan hidup yang vital’. Meskipun organisme kita menarik prana melalui lubang hidung ketika kita bernafas, energi prana dinamis tidak didasarkan pada sistem fisio-kimia tubuh; itu beroperasi secara super-fisik, melalui sistem ‘nirkabel’ daripada melalui sistem saraf.”

“Chakra aktif setiap saat, apakah kita sadar atau tidak. Energi yang dipengaruhi oleh unsur-unsur — bumi, air, api, udara, dan akasha — bergerak melalui cakra-cakra, menghasilkan kondisi-kondisi psikis yang berbeda. Unsur-unsur ini (tattva) terns bergerak dengan nafas di dalam tubuh dan mempengaruhi temperamen seseorang. (Perubahan ini dipahami oleh ahli neurobiologi sebagai perubahan kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kelenjar tanpa duktus yang sekresinya bercampur ke dalam aliran darah tubuh secara langsung dan seketika). Dengan pelatihan, adalah mungkin untuk mengamati diri sendiri dan melihat energi yang bergerak melalui berbagai pusatpsikis ini”. Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

“Chakra Manipura ini meliputi bidang-bidang karma, tindakan baik, pengampunan atas kesalahan seseorang, teman baik, teman buruk, pelayanan tanpa pamrih, kesedihan, dharma dan wilayah langit/sorga. Itu adalah tempat dari elemen api, yang bermanifestasi sebagai penampilan marah, temperamen yang berapi-api dan kepribadian yang gagah. Ia juga merupakan pusat gravitasi tubuh. Perilaku orang dengan chakra ketiga ini dimotivasi oleh keinginan untuk identifikasi, pengakuan, kekuasaan, dan kondisi kehidupan yang lebih baik”.

Dalam chakra manipura kita memasuki dunia permainan besar (big games), karena kita terlibat dalam politik, organisasi, struktur sosial, ekonomi dan lainnya. Nama dan ketenaran adalah ambisi utama kita selama waktu chakra ini dominan — usia 12-18 untuk wanita dan 14-21 untuk pria.

Simbol untuk chakra ini adalah segitiga menunjuk ke bawah, yang mewakili energi api, yang bisa memurnikan, tetapi juga merusak. Kecenderungan di sini adalah ke bawah, ke arah pemanfaatan dua chakra pertama dan menghalangi energi untuk mengalir ke atas. Di sini kita menemukan simpul pertama (brahma granthi), yang mengikat kita pada dunia material dan fisik.

Api terkait dengan matahari, yang merupakan planet penguasa chakra ini. Chakra ini memberi kita kemampuan intelektual untuk mengatur, menyusun, dan mengelola. Pada tingkat kesadaran inilah masyarakat terbentuk. Kebutuhan makanan dan tempat tinggal terpenuhi, dan aspirasi dari chakra kedua dibuat praktis. Secara pribadi, kita mampu menstabilkan hidup kita.

Pada saat yang sama, psikodrama yang diciptakan sendiri menjadi lebih kompleks dan kita menjadi lebih terikat. Harga yang dapat kita bayar terlihat dalam modifikasi mental dari chakra dengan sepuluh kelopak daun bunga ini: ketidaktahuan spiritual, kehausan (akan harta, tahta dan seks) kecemburuan, pengkhianatan, rasa malu, takut, jijik, khayalan, kebodohan, dan kesedihan.

Sifat hewan dari chakra ini adalah domba. Sementara domba adalah salah satu mamalia yang paling lembut, domba jantan, dengan serangan kepalanya yang terkenal, adalah simbol kekuatan dan agresi. Dia adalah kendaraan Agni, Dewa Api. Dalam chakra ini kita merasa sangat istimewa. Ego mengambil bentuknya yang matang di sini. Dalam chakra pertama kita berperilaku sebagai bawahan, dan dalam chakra yang kedua kita ditundukkan oleh jenis kelamin lainnya (nafsu seks).


Di dalam manipura, ego — jika dibiarkan tanpa terkendali — sangat egois, siap untuk mengorbankan segala sesuatu dan semua orang, termasuk keluarga dan teman-teman. Dengan menggunakan energi ini, bersama dengan orang-orang yang berpikiran sama, kita mengatur diri kita sendiri dan mengalami kekuatan untuk mengendalikan. Sementara kekuatan ini bisa merusak, tanpa itu masyarakat tidak bisa berkembang. Kita membutuhkan kekuatan ini untuk mengatur dan menyusun struktur.

Untuk mengendalikan ego yang mementingkan diri sendiri ini, kita menemukan dalam chakra ketiga Dewa yang garang dan perkasa: Braddha Rudra, Yang Menangis. Ketika kita terlalu terikat dengan dunia nama dan ketenaran kita, hanya kekuatan Rudra yang bisa menghentikan kita. Rudra tidak memberi berkah seperti Dewa lain yang memerintah chakra. Dia campur tangan secara paksa untuk menunjukkan kepada kita realitas di balik kehidupan duniawi. Ketika Vishnu menghidupkan, Rudra menghadapi kita dengan kematian, yang dapat mengakhiri kerajaan ego. Tetapi kematian tidak ada akhirnya! Itu hanya perubahan. Dan ego tidak suka perubahan.

Namun, karma kita tidak dapat tetap berpusat pada diri sendiri. Ini adalah salah tafsir atas realitas. Bahkan ketika kita tidak tahu tentang kebenaran, kebenaran tetap merupakan Kebenaran dan tidak pernah berubah. Jadi, lebih baik memahami kebenaran ini. Dan perjalanan panjang ke atas dapat dimulai. Meditasi pada Rudra membantu.

Dewi welas asih berkepala tiga, Lakini, menunjukkan kepada kita keindahan chakra ini. Setelah bidang fisik dan mental (astral), bidang pikiran (selestial) ditemukan. Alih-alih mengeksploitasi dunia, kita melihat bahwa kita dapat menggunakan kekuatan baru yang kita temukan untuk memfokuskan energi dari dua chakra pertama untuk kepentingan semua orang. Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan surga di Bumi. Di sini agama mengambil bentuk, yang dapat membuat hidup harmonis dengan alam menjadi lebih praktis. Lakini menunjukkan bahwa dengan mengorganisir masyarakat kita dapat meningkatkan tingkat spiritual massa. Orang-orang suci atau maharsi suka bekerja dalam cakra ini untuk menginspirasi masyarakat manusia.

Untuk memiliki pikiran yang jelas dan terbuka, kita membutuhkan latihan spiritual yang intens. Kemudian api tapasya bisa menjadi pembersih yang hebat. Kita perlu menenangkan pikiran kita, mengendalikan pikiran kita. Dan kita harus mulai di suatu tempat. Jika tubuh tidak bebas, pikiran tidak bisa bebas. Jika tubuh tenang, pikiran juga memiliki kesempatan untuk menjadi tenang.

Di sini asana menjadi penting, seperti yang dijelaskan oleh Rishi Patanjali. Kita harus menemukan asana atau postur di mana kita bisa duduk untuk waktu yang lama. Untuk ini, disiplin dibutuhkan. Seni bela diri dan olahraga lainnya sangat membantu. Dengan kontrol yang lebih besar terhadap tubuh kita, segitiga api itu dapat mulai bergerak ke chakra yang lebih tinggi.

Perbuatan baik dan layanan tanpa pamrih adalah dua alat penting lainnya untuk mengubah ego kita menjadi makhluk spiritual yang melayani masyarakat. Ketika kita berfokus pada kebaikan kosmik, kita mengikuti dharma, atau kebenaran, dan dharma tertinggi melakukan kebaikan bagi orang lain. Hanya dengan begitu kita bisa mulai merasa satu dengan semua.

Menggunakan energi chakra ini dengan tepat, kita bisa menjadi pribadi yang menginspirasi, bersinar, dan penuh kasih yang hanya memikirkan kepentingan orang lain. Di sini kita menemukan penyelamat dunia, yang membuat cakra manipura (secara harfiah, Kota Permata) bersinar berseri-seri. Pada tahap ini, chakra keempat, di mana Siva memerintah sebagai dermawan abadi, dapat dicapai.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 173, Juli 2018


0 komentar

Svadhishthana Chakra

“Chakra Svadhishthana meliputi bidang astral, ruang antara surga dan bumi, serta wilayah-wilayah hiburan, fantasi, ketidaksahan, kecemburuan, belas kasihan dan sukacita. Energi dalam chakra svadhishthana dipengaruhi oleh elemen air. ... karena chakra ini terhubun dengan prokreasi kehidupan, ia juga berhubungan dengan keluarga dan tanggung jawab keluarga. Alat kelaminnya adalah organ kerjanya, ia terhubung dengan seksualitas dan fantasi.” Harish Johari

(sumber foto ashleyturner.org)

“Tubuh kita ada di dua tingkat. Tingkat material yang kotor terdiri dari tujuh dhatu — daging, tulang, tanah liat, darah, lemak, sumsum, cairan — dan lima elemen — tanah, air, api, udara, dan akasha (ruang kosong atau ruang). Tingkat halus terdiri dari kekuatan hidup yang vital (prana), pikiran (manas), kecerdasan (buddhi), ego (ahamkara), dan perasaan diri (chitta).

Prana adalah sarana yang halus dan kotor dalam organisme manusia terhubung. la mengaktifkan semua sistem di dalam tubuh, termasuk sistem saraf, dan membantu mereka bekerja bersama sebagaimana mestinya. Prana didistribusikan ke seluruh tubuh oleh nadi, saluran energi. Sistem transportasi nadi milik tubuh halus, dan chakra terhubung ke nadi utama dari sistem ini, sushumna, yang beroperasi dalam kolom (lajur) vertebral (tulang belakang). Dengan demikian, cakra bukan milik tubuh material dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan dari sudut pandang materialistik.” Harish Johari

“Chakra adalah kata Sansekerta yang berarti roda, cakram, atau peng- aturan apa pun dalam bentuk ling- karan atau organisasi. Sumber-sumber kuno menggambarkan masing-masing dari tujuh cakra utama sebagai bunga teratai, bentuk melingkar yang dikelilingi kelopak...... meskipun akar pengetahuan tentang chakra berasal dari asal usul kuno, pengetahuan ini masih berfungsi praktis hari ini.”

Setelah kebutuhan dasar kita terjamin, kita siap untuk melihat-lihat dan bertemu dengan jiwa lain, terutama lawan jenis. Chakra Svadhishthana dominan antara usia 6 dan 12 untuk anak perempuan dan 7 sampai 14 untuk anak laki-laki. Unsurnya adalah air, yang dapat bergerak ke segala arah dan memungkinkan kehidupan. Hubungannya dengan bulan membawa kita ke dunia fluktuasi emosi. Dengan emosi sebagai rempah-rempah, hidup kita menjadi lebih beraroma.

Sifat hewan di sini seperti buaya, yang selalu siap untuk berburu dan senang mengambang, berjemur dan berfantasi. Dalam chakra ini kita dihadapkan dengan fantasi tak terbatas. Fantasi seperti itu, terutama seksual, mengkonsumsi lebih banyak energi daripada aktivitas manusia lainnya.

Chakra ini menciptakan enam modifikasi mental, membawa kita ke dalam dunia komplikasi psikologis, yang diwakili oleh enam kelopak teratai chakra ini — kasih sayang, kecurigaan, penghinaan, khayalan, perusakan dan kejanggalan. Di sini kita menciptakan dunia kita sendiri dengan bantuan kemampuan mental dan intelektual kita. Inilah dunia yang kita pikirkan dan bicarakan hampir sepanjang waktu. Itu bisa menjadi begitu luar biasa sehingga kita bisa kehilangan pegangan. Kita membutuhkan panduan saat kita menavigasi chakra ini Bhatara Wisnu muncul di sini, siap untuk melestarikan penciptaan Brahma dan untuk menjaga harmoni dan keseimbangan. Dia mewakili kehidupan. Dia meliputi segalanya. Dari yang terkecil hingga yang terbesar, hidup ada di mana-mana. Meskipun sains meneliti kehidupan, ia masih belum bisa melacak sumbemya di dunia luar. Sebagai Dewa Maya, Wisnu menciptakan dunia di mana sangat sulit untuk menemukan-Nya. Untuk membuatnya lebih mudah, Dia membawa kita agama. Tujuan setiap agama adalah hidup selaras dengan alam dan semua makhluk di dalamnya. Ilmu pengetahuan tidak dapat mengatakan banyak tentang agama, tetapi satu hal yang dikonfirmasikan adalah nilai terapi dari keyakinan dalam meringankan dampak penderitaan, kesulitan dan kematian.


Agama adalah filsafat dan kode moral. Filsafat memberi tahu kita dari mana kita berasal dan ke mana kita pergi. Ini berkaitan dengan karma dan dengan dharma (menjadi satu dengan hukum alam). Dalam Sanatana Dharma, Hindu, kode moral adalah yama dan niyama. Kelima yama (pengekangan) membantu kita bertingkah laku sesuai dengan karakter dari Diri kita yang abadi, yang didefinisikan oleh niyama: kemumian, kepuasan, kesederhanaan, belajar sendiri dan menghormati pemujaan Tuhan. Energi spiritual kita masing-masing seperti lokomotif, dan dunia fantasi kita yang sangat aktif membutuhkan suatu jalur. Jalur itu adalah agama. Namun berhati-hatilah, dalam spiritualitas chakra ini dapat terjebak dalam takhayul, pertanda dan mimpi. Pekerjaan utama agama di sini adalah untuk menenangkan gelombang yang tampaknya tak terkendali dari chakra yang didominasi air ini.

Rakini, aspek lain dari kundalini shakti, membuka pintu ke chakra ini. Dua kepalanya menunjukkan dualitas antara “Aku” dan “yang lain.” Energi dari orang cakra-kedua ini dihabiskan untuk mencapai keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam. “Orang lain” telah memasuki permainan, dan itu bisa membawa polusi mental. Pemumian adalah salah satu alat yang Rakini tawarkan. Alat paling sederhana adalah bersenandung. Kita sering menggunakannya secara tidak sadar, seperti ketika dihadapkan dengan situasi yang membingungkan. Ini mengatur ulang otak. Kehidupan itu sendiri menawarkan pemumian melalui menghadapi kesulitan, bertemu orang-orang luar biasa, tirtayatra, membaca tulisan suci, dll.

Selama tahun-tahun yang didominasi oleh chakra ini, cerita-cerita yang bagus adalah cara penting untuk menyampaikan kebijaksanaan spiritual dan dengan cara menyenangkan memperkenalkan isu-isu filosofis dan moral yang kompleks. Penting untuk mendengarkan cerita yang masuk akal. Pengetahuan belum diinternalisasi. Itu mulai terjadi di chakra keempat. Tanpa cerita dan ajaran agama, kehidupan tidak masuk akal. Satu-satunya hal yang tersisa adalah menghasilkan uang, yang kebanyakan kita habiskan untuk benda-benda dan hiburan tanpa henti, termasuk media sosial.

Rakini memberikan alat lain untuk mengekspresikan fantasi kita dan menjaga dunia mental ini tetap terkendali. Sejak waktu tidak diketahui, seni dan kerajinan dalam semua bentuknya telah digunakan untuk menjalani kehidupan yang harmonis dan seimbang, karena kedua belahan otak, terfokus pada satu subjek, belajar untuk bekerja bersama. Otak kanan sedang bersenang-senang menjelajahi dunia dengan melakukan. Otak kiri belajar dari ini karena menganalisa proses seni untuk menemukan simbol dan pola. Dengan bermain kita menyelidiki teknik yang berbeda. Ini adalah pelajaran pertama kita dalam konsentrasi.

Di sana ada kemungkinan tak terbatas di dunia hiburan. Seni dan kerajinan membuat kita bermain, dan kita menjadi bermain-main. Di sini kita dapat menemukan bakat untuk berkembang selama sisa hidup kita. Suatu seni atau kerajinan bisa menjadi alat spiritual ketika dikombinasikan dengan agama. Perjalanan kita melalui chakra ini menemukan hiburan dalam kisah-kisah pahlawan romantis dan epik seperti Rama dan Krishna, di mana pengorbanan untuk cinta suci lebih penting daripada kepuasan indrawi.

Semua budaya lama memiliki dunia seni dan kerajinan yang menembus seluruh masyarakat. Semua orang terhubung dalam dunia mimpi umum ini (maya) melalui kisah-kisah spiritual yang umum, di mana Dewa dan dewa-dewa dan konsep halus diperkenalkan. Ini sudah dan masih merupakan terapi tertua dan terbaik. Cerita-cerita semacam itu terkait dengan perayaan keagamaan, yang menginspirasi orang untuk berpikir tentang realitas-realitas ini dan membuat dekorasi kreatif. Dengan demikian, kita merasa satu sebagai komunitas, sebuah pengalaman yang mengangkat kita semua.

Dalam chakra ini anak muda menemukan “yang lain”. Ini membuka dunia keinginan dan fantasi, yang diwakili oleh buaya. Kreativitas seni membantu dia untuk mencapai keseimbangan antara dunia luar dan dalam. Dalam chakra ini keinginan untuk cinta fisik lahir.

Bija-mantra utama di sini adalah ram. Ini meningkatkan api pencernaan, umur panjang dan kekuatan fisik, semua diwakili oleh domba jantan. Bija mantra dari sepuluh kelopak chakra ini adalah dam, dham, nam, tam, tham, dam, dham, nam, pam dan pham. Pengulangan ini membantu menenangkan modifikasi mental. Di sini seseorang berperilaku seperti seekor ular kobra atau ngengat, bagi siapa penglihatan itu sangat penting.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 172, Juni 2018
0 komentar

Kṣantavyaḥ: Ampuni

Oṁ kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ
kṣantavyo văciko mama
kṣantavyo mānaso doṣaḥ
tat pramādât kṣamasva maṁ

Terjemahan:
Om Hyang Widhi ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.


Bait keempat, kelima, dan keenam mantram Puja Tri Sandhya bersumber dari kumpulan mantra yang sama yaitu Ksamamaha-devastuti 2-5 (Titib, 2003 : 40), tersebar dalam Wedasanggraha. Bait keenam, berisi permohonan ampun atas segala dosa dari anggota badan, kata-kata, dan pikiran. Pemuja memohon kehadapan Sang Hyang Widhi sebagai Mahadewa yang merupakan sahabat semua makhluk, karena Mahadewa memiliki sifat maha pengampun atau ksama.

Kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ berarti ampunilah dosa anggota badan, hal ini terkait perbuatan atau karma yang dilakukan dengan anggota tubuh atau badan manusia. Sarasamuccaya, sloka 76 menguraikan ada tiga dosa anggota badan yang tidak patut dilakukan:

Pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va, 
Trini papani kayena sarvatah parivarjavet.

Terjemahan:
Inilah yang tidak patut dilakukan, membunuh, mencuri, berbuat zina, ketiganya janganlah hendaknya dilakukan terhadap siapapun baik secara berolok-olok, dalam keadaan dirundung malang, dalam hayalan sekalipun, hendaknya dihindari semua itu.

Membunuh, mencuri dan berzina merupakan tiga dosa anggota badan yang patut dihindari. Raja Drstarastra yang buta konon dalam kelahiran sebelumnya pernah membunuh 100 ekor anak burung, oleh karena itulah menyebabkan ia mengalami penderitaan dengan menyaksikan kematian 100 korawa, putra-putranya dimedan perang. Karena mencuri biji-bijian menyebabkan seseorang lahir menjadi orang cebol. Bagi orang yang berzina akan menyebabkan seseorang lahir berumur pendek, dan menderita epilepsi. Demikian Agastya parwa menjelaskan tentang karma dari seorang pencuri dan orang yang suka berzina.

Kṣantavyo văciko mama artinya: ampunilah dosa perkataan. Ada empat dosa perkataan yang tidak patut dilakukan menurut Sarasamuccaya sloka 75:

Asatpralapam parusyam paisunyamanrtam tahta,
Catvari vaca rajendra na jalpennanucintayet.

Terjemahan:
Inilah yang tidak patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya yaitu: perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan memfitnah, perkataan bohong, inilah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan jangan diucapkan jangan dipikir-pikir akan diucapkannya.

Perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan memfitnah, perkataan bohong merupakan bencana bagi siapa saja yang telah mengeluarkanya, seperti anak panah yang melesat yang tidak dapat ditarik kembali. Kata-kata yang yang bersumber dari hati yang jahat serta perkataan kasar akan menyakitkan siapa saja yang mendengar, demikian pula mampu mencelakai siapa saja yang mengucapkan. Pepatah mengatakan fitnah lebih kejam dari membunuh, maksudnya rasa sakit hati yang ditimbulkan akibat fitnah sungguh tak terhingga. Demikian pula satu kebohongan menimbulkan kebohongan berikutnya. Kebohongan memberikan jalan kepada pelaku terjerumus dalam kehidupan yang serba ketakutan, sebab sipelaku akan berfikir kapan kebohongannya akan terbongkar.

Kakawin Niti Sastra 5.3 menyebutkan: wasita nimitanta manemu laksmi, dengan kata-kata orang bisa mendapatkan kekayaan; wasita nimitanta pati kapangguh, dengan perkataan juga orang bisa menemui ajalnya; wasita nimitanta manemu duhkha, dengan perkataan orang bisa menemui kesengsaraan; wasita nimitanta manemu mitra, dengan perkataan orang akan mendapatkan kawan baik.

Kṣantavyo mānaso doṣaḥ artinya: ampunilah dosa pikiran. Sarasamuscara sloka 74 menguraikan sedikitnya ada tiga hal terkait dosa pikiran.

Anabhidyam parasvesu sarvasatvesu carusam,
Karmanam phalamastiti trividham manasa caret.

Terjemahan:
Keinginan untuk memiliki hak milik orang, kebencian pada mahluk hidup, dan ketidak percayaan pada hukum sebab akibat, inilah produk pikiran yang harus dikendalikan.

Menginginkan milik orang lain, merupakan awal dari rasa iri hati, yang akan menjerumuskan pada perbuatan yang tidak baik. Pikiran memegang peranan besar bagi tindakan berikutnya, oleh karena itu segala perbuatan berawal dari pikiran. Ketika pikiran untuk memiliki sesuatu yang bukan haknya tak mampu dikendalikan inilah yang memicu seseorang bisa mencuri, merampok, atau menipu. Ikatan pikiran yang melekat pada hal-hal duniawi adalah penyebab utama dari berbagai tindakan tidak terpuji.

Benci kepada makhluk lain menimbulkan sikap antipati, seolah menang sendiri, dan tidak dapat hidup bersama, berperilaku kejam tanpa kontrol yang dapat menimbulkan kekacauan. Hindu tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lainya, karena seluruh alam semesta adalah satu keluarga yang tertuang dalam kalmat Vasudhaiva Kutumbakam. Tentu berbeda dengan saudara kita yang menganggap orang yang tidak seiman atau seagama disebut sebagai kafir. Penerapan dari ajaran kasih sayang pada semua makhluk tertuang dalam doa universal loka samasta sukino bhavantu (semoga semua makhluk berbahagia).

Ketidak percayaan pada hukum karmaphala dapat menimbulkan perilaku menyimpang dari dharma. Orang yang berfikir bahwa perbuatan tidak akan menimbulkan akibat bisa saja terjerumus dalam perbuatan berdosa atau papa. Hal ini akan membawa dampak meningkatnya kejahatan dalam masyarakat. Karena itu penting artinya mempercayai hukum karma untuk menjaga keseimbangan dunia ini agar tetap terlindungi oleh dharma. Bahwa setiap perbuatan pasti ada hasilnya merupakan hukum mutlak yang berlaku bagi semua orang.

Kaya wak dan manah disebut trikaya dalam kitab Sarasamuccaya sloka 157 hendaknya ketiganya tidak digunakan untuk menyakiti atau membunuh makhluk lain.

Adrohah sarvabhutesu kayena manasa giro, 
Anugrahasca danam ca silametadvidurbudhah.

Ikang kapatyaning sarwabhawa, haywa jugenulahaken, makasadhanang trikaya, nang kaya, wak manah, kunang prihen ya ring trikaya anugraha lawan dana juga, apan ya ika sila ngaranya, ling sang pandita.

Terjemahan:
Yang membuat matinya segala makhluk hidup, sekali-kali jangan hendaknya dilakukan dengan menggunakan trikaya, yaitu perbuatan, kata-kata dan pikiran. Adapun yang harus diikhtiarkan dengan trikaya, hanyalah pemberian dan sedekah saja, sebab itulah yang disebut sila, kata orang arif.

Namun dalam prakteknya manusia sering lalai sehingga melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Hal ini bisa saja terjadi karena manusia diliputi sad ripu yaitu enam musuh yang ada di dalam diri manusia. Pengaruh sad ripu yang besar menimbulkan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan dharma. Karena itulah kelalaian manusia bersumber dari dalam dirinya, yang melupakan dirinya sebagai makhluk yang utuh yaitu terdiri atas jiwa dan raga. Manusia terdiri atas jiwa maksudnya jiwa itu sesungguhnya suci dan bersih, namun terbungkus oleh wasana yang membelenggu sehingga tidak nampak keaslianya. Manusia hidup dengan menggunakan badan sehingga manusia memiliki kewajiban terhadap sesama, untuk mewujudkan hidup yang harmonis. Untuk kesalahan yang tidak disengaja karena kelalaian kita perlu memohon pengampunan, tat pramādât kṣamasva maṁ: ampu- nilah hamba dari kelalaian hamba.

Oleh: Gde Adnyana
Source: Majalah Wartam Edisi 47


0 komentar

Mantraṁ Puja Tri Sandhya

Dalam beragama Hindu, unsur kepercayaan kepada doa merupakan bagian yang sangat penting. Doa dalam istilah agama Hindu disebut mantra, stava atau Brahma. Doa atau Brahma merupakan suatu dasar kayakinan atau srddha dalam agama Hindu yang merupakan kewajiban untuk melakukannya.

Di dalam berdoa seseorang harus pasrah kepada Sang Hyang Widhi Wasa, karena sesungguhnya hanya Dia yang menciptakan segala yang ada, baik alam yang nyata (sekala) maupun alam tak nyata (niskala). Dia pula yang berkuasa mengembalikan alam semesta beserta isinya.

Berikut adalah Mantram Puja Tri Sandhya beserta dengan artinya yang disadur dari berbagai sumber yang ada.


Oṁ bhūr bhuvāh svaḥ
tat savitur vareṇyam
bhargo devasya dhīmahi
dhiyo yo naḥ pracodayāt

Om Sang Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci.


Oṁ Nārāyana evedhaṁ sarvaṁ
yad bhūtam yac ca bhāvyam
niṣkalaṅko nirañjano nirvikalvo
nirākhyātaḥ śuddho deva eko
nārāyano na dvitīyo ‘sti kaścit

Om Sang Hyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua mahluk dan kehidupan. Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua.


Oṁ tvaṁ śivah tvaṁ mahādevaḥ
Īśvaraḥ parameśvarah
Bharmā viṣṇuca rudraśca
Puruṣaḥ parikīrtitaḥ

Om Sang Hyang Widhi Wasa, engkau disebut juga Siva, Mahadeva (devata tertinggi), Isvara (maha kuasa), Paramesvara (maha raja, adiraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta), dan juga Rudra (pelebur alam semesta) karena Engkau adalah asal mula segala yang ada.


Oṁ pāpo ‘haṁ pāpakarmāhaṁ
pāpātmā pāpāsaṁbhavaḥ
trāhi māṁ puṇḍarikākṣaḥ
sabāhyā bhyantaraḥ śuciḥ

Om Sang Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba, lindungilah hamba, Sang Hyang Widhi yang bermata indah bagaikan bunga teratai, sucikan jiwa dan raga hamba.


Oṁ kṣamasvā māṁ mahādevaḥ
sarvaprāṇi hitāṅkaraḥ
māṁ moca sarva pāpebhyaḥ
pālayasva sadā śiva

Om Sang Hyang Widhi Wasa, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung, anugerahkan kesejahteraan kepada semua mahluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba Om Sang Hyang Widhi.


Oṁ kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ
kṣantavyo văciko mama
kṣantavyo mānaso doṣaḥ
tat pramādât kṣamasva maṁ

Om Sang Hyang Widhi Wasa, ampunilah dosa yang dilakukan badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata-kata hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.

Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ Oṁ

Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.


0 komentar
 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis