Budaya 'Metilesang Rage'

Pupuh GINADA

Ede ngaden awak bise
Depang anake ngadanin
Gaginane buka nyampat
Anak sai tumbuh lulu
Ilang lulu ebuk katah
Yadin ririh
Enu liu papelajahan

Terjemahan:
Janganlah merasa diri pandai
Biarkan orang lain yang menilai
Ibarat menyapu
Sampah pasti ada selalu
Hilang sampah, debu datang beribu-ribu
Walaupun pandai
Masih banyak yang perlu dipelajari


Kidung Pupuh GINADA di atas mengajarkan agar kita selalu 'metilesang rage' - 'tahu diri' - 'memahami kemampuan' - 'tahu akan posisi dan kondisi'. Kalimat 'metilesang rage' biasanya sering didengar dari ucapan orang tua, ketika anaknya tinggal sama orang lain, atau pergi merantau. Budaya 'metilesang rage' dewasa ini kini mulai punah dan bahkan nyaris hilang.

Piteket sederhana namun berjuta bermakna ini mulai kehilangan jati dirinya. Tak banyak lagi dari masyarakat yang menerapkan budaya 'metilesang rage' - 'tahu diri'. Malah banyak yang sebaliknya. Banyak yang sok 'paling tahu' - 'sok pintar' - 'sok hebat' - dan sok-sok yang lain. Kita kadang tidak pernah sadar dan eling untuk mengukur kemampuan diri kita. Baru bisa sedikit, punya ilmu sedikit, punya kepandaian sedikit, punya kekayaan sedikit, sudah berlaga seperti orang hebat, seperti orang pintar, seperti orang kaya tapi nyatanya???.

Budaya 'metilesang rage' patut diangkat kembali agar kita menjadi manusia yang selalu sadar, selalu eling, selalu tahu mengukur kemampuan, mengukur segela sesuatu yang kita miliki. Kata 'metilesang rage' sering kita dengar tak kala orang tua kita berpesan. Wahai cening (anakku), bila nanti engkau bekerja, tinggal sama orang, atau pergi merantau 'petilesang ibane' - 'petilesang ragane'. Artinya apa, orang tua kita selalu menitip pesan kepada anaknya agar selalu 'tahu diri'. Hidup sama orang, bekerja sama orang, kita harus tahu posisi kita, harus tahu kewajiban dan tugas kita yang harus dilakukan, harus tahu kemampuan. Jangan suka menyombongkan diri.

Ede ngaden awak bisa. Janganlah kita merasa diri bahwa paling bisa, paling pintar. Ingatlah pepatah dulu "di atas langit masih ada langit". Bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kita ketahui masih belum seberapa. Di luar masih banyak orang yang lebih hebat.

Depang anake ngadanin. Kemampuan, kehebatan, kepandaian yang kita miliki biarkan orang lain yang mengetahui. Tidak perlu sesumbar dengan menyebut "Saya orang hebat", "Saya orang kaya", "Saya orang pandai". Biarkan saja mengalir dan orang lain yang menilai.

Geginane buka nyampat. Ibarat pekerjaan menyapu. Anak sai tumbuh lulu. Sampah pasti akan selalu ada dihalaman rumah. Kekurangan dalam diri itu pasti akan ada. Ilang lulu ebuk katah. Habis menyabu sampah, banyak debu yang datang. Ketika kita sudah paham yang lain. Ada ribuan hal yang belum kita pahami. Ada banyak hal yang belum kita ketahui dan pelajari.

Yadin ririh, Enu liu papelajahan. Walaupun kita hebat, pandai, cerdas masih banyak hal yang perlu kita pelajari. Pengetahuan tidak sependek mata memandang ke langit biru. Tidak sebatas seluas lautan. Tidak pula hanya sedalam samudera. Melainkan melebihi dari semua itu. Ibarat sebuah gelang rantai ia tidak memiliki ujung. Tidak akan pernah habis untuk kita pelajarai.

Point Penting:
Jadilah manusia yang selalu 'metilesang rage' - 'tahu diri', tahu akan kemampuan yang dimiliki. Tahu akan segala kekuarangan yang dimiliki. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti memiliki kekurangan dan kelenihannya masing-masing.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis