Makna Dibalik Lagu 'Meong-Meong'

Meong-meong alih je bikule
Bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh
Kereng pesan ngerusuhin

Yuk meng ... juk bikul ...
Yuk meng ... juk bikul ...
Yuk meng ... juk bikul ...

Artinya:
Wahai kucing carilah tikus
Tikus besar-besar, juga gemuk-gemuk
Selalu membuat kerusuhan

Ayuk kucing ... tangkap tikusnya ...
Ayuk kucing ... tangkap tikusnya ...
Ayuk kucing ... tangkap tikusnya ...


Pada zaman dulu, anak-anak kecil terutama anak Bali, mereka diajarkan untuk menyanyikan lagu-lagu ini oleh orangtua, begitupun juga ketika mereka disekolah diajarkan menyanyikan lagu meong-meong pada saat mereka mulai masuk kelas 1 dan 2 tingkat sekolah dasar. Lagu meong-meong sempat hits pada eranya. Namun saat ini mulai mengalami keremangan. Banyak dari kita yang mungkin sudah mengerti arti dari lagu meong-meong tetapi banyak yang belum paham akan makna dibalik lagu meong-meong yang kerap dinyanyikan oleh anak SD sewaktu mereka akan pulang sekolah.

Dewasa ini lagu meong-meong seakan kembali populer. Moment yang paling sering terdengar ketika tokoh Hindu yang sangat dikagumi generasi muda, yaitu Bapak Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. Beliau berulang kali menyanyikan lagu meong-meong pada setiap moment yang beliau hadiri baik dalam memberikan sambutan ataupun menyampaikan materi.

Ada hal yang menarik ketika tokoh sekaliber Bapak Wisnu Bawa Tenaya menyanyikan lagu meong-meong yang notabenenya adalah lagu anak-anak dan mungkin lagu ini hits pada zaman beliau masih anak-anak. Nampaknya ada pesan yang begitu mendalam yang ingin beliau sampaikan ketika menyanyikan lagu meong-meong.

Dalam pesan yang kerap disampaikan Bapak Wisnu Bawa Tenaya bahwa ada kesalahan dalam menyanyikan lagu meong-meong. Sering kita mendengar pada bait kedua lagu meong-meong yaitu "Juk Meng .... Juk Bikul ..., Juk Meng ... Juk ... Bikul". Ini yang ditangkap (juk) 'meong' (kucing) dan 'bikul' (tikus). Padahal semestinya "Yuk Meng ... Juk Bikul .... Ayo kucing tangkap tikusnya. Berantas tikusnya. Begitu pesan beliau yang sering disampaikan.

Memang bila diresapi maknanya, ada sebuah pesan moral yang saat ini sudah mulai memudar dari lagu meong-moeng. Kalau kita pahami dan resapi, lagu meong-meong menyimpan makna yang sangat dalam. Apalagi bila kita lihat kondisi negara Republik Indonesia saat ini yang tengah dihantui dengan maraknya kasus korupsi. Perilaku kotor nan keji itu nampaknya tidak lagi dipandang sebagai perilaku yang patut dihindari apalagi dianggap berdosa, melainkan dianggap sebagai sebuah perilaku yang mengasikkan dan cocok untuk dilakukan bahkan bila perlu berulang-ulang kali dilakukan.

Kasus yang terakhir yang sangat menarik perhatian semua kalangan untuk menyimaknya yaitu korupsi e-KTP yang dilakukan oleh pejabat negara. Orang yang sangat dipercaya oleh masyarakat untuk dapat mewakili aspirasi mereka ketika ia dipilih dan masuk menduduki kursi di senayan sana tapi melakukan perilaku yang sangat menggelikan dan menjijikkan. Betapa tidak, ada ratusan juta warga masyarakat yang tertipu oleh cover penampilannya yang sok kelihatan suci tapi di dalamnya penuh dengan kekotoran.

Kekuasaan dan kekayaan dijadikan sebagai topeng untuk menutupi wajahnya yang penuh daki, dijadikan sebagai baju untuk menutupi busuk kulitnya, dijadikan sepatu untuk menutupi kotoran dikakinya. Korupsi bukan lagi perilaku keji, tapi sudah menjadi alat untuk berbagi harta yang sudah tidak suci. Wahai penjabat negeri tidakkah kau mengerti betapa menderitanya kami karena tingkahmu yang tidak terpuji.

Lagu meong-meong seakan mengingatkan kita kembali. Menggugah semangat kita untuk memberikan dukungan kepada aparat penegak hukum (KPK, Jaksa, dan Kepolisian) untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Mengungkap dan menguak kasus korupsi yang membuat rakyat menderita tak henti-henti. 

Lagu meong-meong memberikan makna bahwa sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang aparat penegak hukum (meong) untuk memerangi koruptor (bikul). Sudah menjadi tugas si 'meong' untuk mengkap si 'bikul' dan memangsanya. Tapi kasihan lagi, si 'meong' dihajar habis-habisan oleh pemelihara 'bikul'. Digetok, digaplok, digong-gong, dihajar sana sini agar si 'meong' tidak menangkap dan memangsa si 'bikul'. Ironis sekali.

Apa karena 'zaman now', dimana 'meong' sudah takut dengan 'bikul'. Apalagi melihat kondisi 'bikul' kota yang realitanya lebih besar dan ganas. Sehingga 'meong' jadi takut. Takut akan ia dimangsa oleh 'bikul' itu sendiri. Atau bahkan seperti cerita film cartoon Tom and Jerry. Dimana 'meong' dan 'bikul' kadang mereka bertengkar dan kejar-kejaran. Kadang juga mereka saling bekerjasama??. Entahlah..??.

Poin Penting:
Tak semua yang sederhana, tak bernilai mulia. Seperti lagu meong-meong. Sederhana tapi mengandung makna yang begitu mulia.

Mari bersama-sama berikan dukungan kepada 'meong' untuk melawan dan memberangus para 'bikul'. Menindas dan membongkar habis kasus-kasus yang ingin membuat masa depan rakyat, bangsa, dan negara menjadi hangus.

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

29 November 2018 19.57

Terimakasih atas penjelasannya...

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis