CUNTAKA: Keadaan Tidak Suci

CUNTAKA - adalah suatu keadaan yang kotor baik secara jasmani maupun rohani yang disebabkan oleh diri sendiri seperti menstruasi atau karena orang lain yang dalam hubungan kedukaan karena kematian. Selain itu menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir menyatakan bahwa Cuntaka adalah suatu keaadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu.

(Sumber foto Bungklang Bungkling)

Dalam kamus Kawi-Indonesia cuntaka berarti cemer/leteh/kotor. Ketika mengalami cuntaka, biasanya umat Hindu dilarang untuk memasuki areal tempat suci seperti Pura atau merajan/sanggah yang ada dirumah.

Sebab-sebab Cuntaka
Menurut Hasil Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir ada beberapa penyebab orang mengalami kecuntakaan, yaitu:
  1. Kematian - umat Hindu akan mengalami cuntaka ketika ada sanak keluarga yang mengalami kedukaan. Dalam bahasa balinya disebut dengan sebel/kotor. Mereka yang terkena cuntaka karena kematian adalah keluarga dekat sampai dengan sepupu (mindon), serta orang-orang yang mengantarkan jenazah sampai kekuburan (setra), begitu juga dengan alat-alat yang digunakan dalam keperluan itu.
  2. Karena Haid - umat Hindu dikatakan cuntaka ketika ia mengalami haid atau menstruasi. Biasanya hal ini dialami oleh para perempuan. Orang yang Haid menstruasri akan mengalami kecuntakaan atau kekotoran selama ia masih mengeluarkan darah. Lingkuangan yang mengalami cuntaka karena haid atau mentruasi adalah kamar tidur tempat dari orang yang cuntaka tersebut
  3. Melahirkan - umat Hindu dikatakan cuntaka ketika ada persalinan atau seorang ibu yang melahirkan. Yang mengalami cuntaka pada sata melahirkan adalah diri pribadi (ibu) dan suami serta rumah yang ditempatinya.
  4. Keguguran - cuntaka karena keguguran kandungan. Yang mengalami cuntaka karena keguguran adalah diri pribadi (ibu) dan suami beserta rumah yang ditempatinya.
  5. Sakit/Kelainan - seseorang yang mengalami sakit atau kelainan juga dikatakan cuntaka. Penderita sakit atau kelainan dikatakan mengalami cuntaka karena juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam masyarakat. Yang mengalami cuntaka karena sakit atau kelainan adalah diri pribadi dan pakainnya.
  6. Perkawinan - umat Hindu dikatakan mengalami cuntaka akibat berlangsungnya upacara perkawinan/pernikahan. Yang mengalami kecuntakaan adalah kedua mempelai. Mereka dikatakan cuntaka sebelum dibersihkan dengan upacara penyucian dan mendapatkan tirta pabeakaonan.
  7. Gamia Garnana - cuntaka yang diakibatkan karena adanya  hubungan seks antara saudara kandung atau hubungan seks antara orang dengan anaknya. Yang mengalami cuntaka adalah diri pribadi dan lingkungannya.
  8. Salah Timpal - cuntaka yang diakibatkan karena adanya hubungan seks anatara manusia dengan binatang. Salah Timpal akan memberikan dampak ketidakseimbangan bagi alam. Yang mengalami cuntaka adalah diri pribadi yang melakukan serta desa tempat mereka tinggal.
  9. Hamil Duluan - cuntaka yang diakibatkan karena adanya kehamilan di luar perkawinan (wiwaha samskara). Selain itu, cuntaka seperti ini juga dapat disebabkan karena melahirkan yang tanpa didahului dengan upacara perkawinan. Perilaku seperti ini tentunya akan membuat ketidakharmonisan baik dalam keluarga yang bersangkutan maupun masyarakat sekitarnya.
  10. Mitra Ngalang - cuntakan yang diakibatkan karena adanya hubungan seks di luar perkwaninan (nyolong smara, semara dudu). Yang mengalami kecuntakaan adalah diri pribadi dan kamar tidurnya.
  11. Melahirkan Tanpa Upacara - umat Hindu mengalami cuntaka bila seseorang melahirkan tanpa adanya suatu upacara. Yang mengalami cuntaka adalah diri pribadi (ibu), anaknya, dan rumah yang ditempatinya.
  12. Sad Atatayi - cuntaka karena melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama. Sad Atatayi memiliki arti enam macam pembunuhan yang sangat kejam, yaitu; agnida - membakar milik orang; wisada - meracuni; atharwa - melakukan ilmu hitam; sastraghna - suka mengamuk; dratikrama - memperkosa; dan raja pisuna - suka memfitnah. Yang mengalami cuntaka adalah diri pribadi yang melakukan perbuadan tersebut.
Batas Waktu Cuntaka
Dalam beberapa susatra Hindu dijelaskan batas waktu atau periode masa ketidaksucian seseorang. Menurut sastra Parasara Dharmasastra dijelaskan sebagai berikut:
"Atah sudhim prawaksyami janane marane tatha,
Dine trayena suyanti brahmanah preta sutake.
Ksatryo dwadasa hena waisyah panca dasa hakah,
Sudrah sudeyati masena parasara waco yataha."
Sekarang Aku jelaskan tentang periode atau masa ketidaksucian seseorang yang berhubungan dengan kelahiran atau kematian (dari anggota keluarganya). Masa ketidaksucian yang disebabkan oleh kelahiran atau kematian dalam keluarga, bagi brahmana selama 3 hari, bagi ksatrya 12 hari, bagi vaisya 15 hari dan bagi sudra 30 hari, seperti yang ditetapkan oleh yang suci Parasara.

Setiap masyarakat akan mengalami masa kecuntakaan yang berbeda-beda hal ini disebabkan karena tingkat kemampuan dalam menyucikan diri pribadi yang berbeda pula. Dalam Hasil Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir dijelaskan batas waktu seseorang mengalami cuntaka atau kesebelan, yaitu:
  1. Kematian - disesuaikan dengan loka dresta dan sastra dresta. Artinya mnegikuti adat kebiasaan serta sumber sastra dan tradisi masing-masing daerah. Suatu daerah tentu akan memiliki aturan yang berbeda dengan daerah lainnya.
  2. Karena Haid - selama masih mengeluarkan darah (mens) dan sampai ada pembersihan diri atau melukat.
  3. Melahirkan - sekurang-kurangnya 42 hari dan akan berakhir setelah mendapat tirtha pebersihan (air suci) dan suaminya akan mengalami cuntaka sekurang-kurangnya sampai kepus puser bayinya.
  4. Keguguran - sekurang-kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapatkan tirtha pebersihan.
  5. Sakit/Kelainan - sampai seseorang sembuh dari penyakitnya dan telah mendapat tirtha pebersihan.
  6. Perwakinan - sampai dengan kena tirtha pabyokaonan (tirtha wiwaha samskara)
  7. Gamia Garnana - sampai diceraikan, diadakan pebersihan baik terhadap diri pribadi maupun desa adat/kahyangan.
  8. Salah Timpal - diselesaikan sebagaimana mestinya sesuai dengan adat dan agama Hindu.
  9. Hamil Duluan - sampai dengan adanya upacara byakaon.
  10. Mitra Ngalang - sampai dengan adanya upacara byakaon.
  11. Melahirkan Tanpa Upacara - sampai dengan adanya "memeras" (disahkan sebagai anak sesuai dengan agama Hindu).
  12. Sad Atatayi - sampai diprayascita dan sama sekali tidak boleh menjadi rokhaniawan.
Seseorang yang mengalami kecuntakaan atau dalam ke adaan sebel/leteh/cemer tidak diperkenankan untuk memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci seperti buat sarana upacara (banten) dan ngaturan banten.
Demikianlah pemahaman tentang cuntaka serta sebab-sebab yang mengakibatkan seseorang mengalami cuntaka. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

1 Maret 2019 07.45

Dalam keadaan cuntakan(haid) apakah boleh membuat banten?

6 Juli 2019 12.40

Tentu tidak boleh, karena yang bersangkutan masih dalam keadaan kotor/cuntakan. Suksma

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis