Setiap Orang Tidak Dapat Menghindar dari Hukum Karma

Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau di luar kesadaran, semuanya itu disebut dengan karma. Menurut hukum karma phala, segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikian pula sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau phala seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.


(Sumber foto Blog Artayana)
 
Hidup ini mewarisi karma kita sendiri. Kita adalah pembuat karma itu bagi diri sendiri, karma menimpa siapa saja dan karma adalah hukum abadi, karena karma adalah unsur dari hu­kum sebab akibat. Karma phala yang menjadi pilar keyakinan agama Hindu harus kembali dibangkitkan.

Di dalam Upanisad dijelaskan semua perbuatan akan memperoleh hasil, baik perbuatan itu bagus bagi masyarakat maupun perbuatan itu merugikan masyarakat. Hukum karma terkenal pula dengan hukum alam yang tiada dapat ditolak oleh siapapun. Orang harus tunduk kepada hukum ini, karena setiap orang tidak dapat menghindarkan diri atau melarikan diri dari hukum karma.

Pada prinsipnya karma phala dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu:

Pertama, Sancita karma: Adalah dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang. Dahulu sebelum menjelma pada kehidupan sekarang ini, pernah mengalami kehidupan, di mana perbuatan- perbuatan yang kita lakukan pada masa lampau belum habis menerima hukum karma karena badan lebih cepat mengalami kematian daripada hukum.

Oleh sebab itu Sang Hyang At­man yang kekal abadi dibungkus oleh suksma sarira (badan astral) dan semua perbuatan yang pernah dilakukan akan melekat pada suksma sarira itu memperoleh badan baru, maka suksma sarira itu masuk ke badan baru tersebut dengan membawa karma yang pernah mereka lakukan pada kehidupan di masa lalu.

(Baca: PADMA BHUVANA: Pura Sembilan Penjuru Nusantara Dimana Saja?)

Tetapi harus diingat apabila di kehidupan lalu sering berbuat onar dan jahat maka Sang Hyang Atman di dalam penjelmaannya kemudian tidak menjadi manusia, Sang Hyang Atman akan memilih badan menjadi binatang seperti terurai dalam Wrespati Tattwa sebagai berikut: Yapwan tamah mageng ring cittaya hetuning atma tiryah (21). Artinya: Apabila citta (badan astral) pengaruhnya lebih banyak tamas dari­pada satwam maka ia akan menjelma menjadi binatang.

Dari uraian Wrehaspati Tattwa di atas jelas bahwa kehidupan yang da­hulu menentukan kehidupan sekarang sehingga kehidupan sekarang ini tiada luput dari hasil hukum yang dilakukan pada masa lampau.

Kedua. Prarabda karma, adalah pahala dari perbuatan dalam hidup ini tanpa ada sisanya lagi. Hidup ini bekerja dan melakukan perbuatan, namun perbuatan ini pasti mendatangkan hasil dari jerih payah yang kita lakukan. Selama manusia hidup di dunia, maka tidak akan mampu menghindar dari tindakan atau kerja.

Umpama bila seseorang berpikir maka perbuatan berpikir merupakan suatu kerja walaupun yang bekerja hanyalah otak saja. Demikian pula berjalan, berbuat, semua langkah ini adalah tindakan kerja dari seseorang. Oleh karena itu hidup ini adalah suatu tindakan kerja, maka setiap orang tidak mampu lari dan menghindar dari tindak kerja ini.

Seperti disebutkan di atas, prarabda karma adalah tindakan yang hasilnya telah mereka nikmati dalam hidup di dunia ini tanpa ada sisanya melekat pada citta. Dan setelah meninggal dan menjelma lagi ke dunia maka ia mulai dengan lembaran baru atau karma baru.

Bagi para yogin atau orang bijaksana mereka mampu mengendalikan panca indria dengan mempergunakan pikiran guna membersihkan jiwa dari nafsu dan keinginan. Pengontrolan yang dilakukan terhadap panca indria bertujuan menjuruskan segala kegiatan panca indria ke arah kerja yang baik dan benar.

Dengan melalui langkah kerja yang baik dan benar maka pikiran dapat dipusatkan untuk melakukan pekerjaan dan pengabdiaan yang lebih sempurna tanpa kepentingan diri sendiri. Tin­dakan dan langkah inilah yang dapat membebaskan jiwa dari belenggu duniawi sehingga hasil perbuatan yang mereka lakukan tidak melekat pada jiwa.

Jiwa setelah mati menjadi bersih di mana segala hasil perbuatannya telah dirasakan dalam hidup di dunia ini. Demikian perbuatan yang disebut prarabda karma di mana segala sesuatu langkah yang dilakukan telah memperoleh hasil di dunia ini sehingga jiwa yang menuju ke alam akhirat menjadi bersih.

Ketiga. Kriyamana karma adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada kehidupan ini, sehingga harus diterima dalam kehidupan yang akan datang. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang dalam masa kehidupan ini belum mampu mereka nikmati hasilnya namun badan mereka terlebih dahulu meninggal dunia se­hingga perbuatan yang mereka lakukan akan dinikmati hasilnya dalam penjelmaan yang akan datang.

Contoh cerita yang mengandung ajaran karma phala. Pada akhir perang Bharatayudha, Prabu Drestarata bertanya kepada Sri Krisna, mengapa ia menerima nasib yang begitu buruk. Dilahirkan dengan mata buta dan seratus anak-anaknya meninggal semua dalam perang di Kuruksetra.

Sri Krisna menjawab bahwa hal tersebut disebabkan karena karma yang dilakukan pada lima puluh kali kelahirannya terdahulu. Pada saat ia melepaskan panah api ke sebuah pohon yang didiami oleh seratus ekor anak burung, sehingga anak burung itu terperangkap dan terbakar menjadi abu. Induk bu­rung yang ingin menyelamatkan anakanaknya tidak luput dari kobaran api tersebut, sehingga matanyapun menjadi buta. Dosanya tersebut yang kemudian makin lama makin tertimbun oleh karma-karma buruk yang dilakukannya lagi, sehingga menambah beban dosa itu, menyebabkan dia harus menerima takdir terlahir dengan mata buta dan seratus anaknya meninggal semua dalam perang keturunan Bharata.

(Baca: Manusia Jauh)

Apapun yang dilakukan akan membuahkan hasil (pahala) bagi pelakunya yang datangnya cepat atau lambat. Hasil perbuatan ini tidak bisa ditawar, seperti halnya beban duka yang harus dialami oleh Drestarata, akibat dari perbuatannya sendiri sekalipun telah dilakukannya lima puluh kali kelahirannya terdahulu. Manusia sangat sulit luput dari karma dan manusia baru bebas dari karma apabila atman manusia telah bersatu dengan Tuhan dan tidak mengadakan kelahiran kembali.

Arabhya karmani gunawitani, bhawan ca sarwam winiyo, Jayedyah tesam abhawe krta karma nasah karma ksayeyati sa tatwatonya (Swetaswatara Upanisad VI.4). Artinya: “Siapa yang melaksanakan kerja sesuai dengan sifat-sifatnya, dengan meletakkan hasilnya kepada Brahman, maka hal itu berarti aktivitas kerjanya berhenti. Dengan berhentinya aktivitas kerjanya yang demikian itu, maka ia dapat menunggal dengan Brahman.

Untuk bersatunya Atman den­gan Tuhan maka setiap manusia bila melakukan pekerjaan ia hendaknya tiada terikat terhadap hasil pekerjaan yang dikerjakannya. Namun segalanya diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan sehingga Tuhan yang menentukan segala hasil perbuatan yang dikerjakan seseorang. Dengan demikian Sang Hyang Atman bersatu kepadanya dan tidak mengalami kelahiran kembali.

Ajaran agama adalah gambaran cinta kasih Tuhan terhadap semua makhluk ciptaannya. Agar semua ciptaannya melakukan perbuatan baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Berbuat baik akan mendatangkan ketenteraman bathin. Dengan bathin yang tentram seseorang akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan sebaliknya dengan melakukan perbuatan yang jahat, hati mereka tidak tentram.

Apabila tidak tentram hatinya muncullah kemarahan pada dirinya. Rasa marah akan menyebabkan kehilangan kontrol dirinya yang mengakibatkan penderitaanlah yang dirasakan.

*) I Wayan Sapta Wigunadika
Source: Media Hindu, Edisi 170, April 2018
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis