Asih Punia Sebagai Wujud Bhakti Pada Tuhan

Sosok Agama Hindu menurut Manawa Dharmasastra, II.6 adalah Sruti, Smrti, Sila, dan Acara. Tujuan mendalami Weda untuk menuntun penganutnya mencapai Atmanastusti atau mencapai kebahagiaan wahya adyatmika atau kebahagian sekala dan niskala.

(sumber foto pecintaipa.info)

Sruti itu adalah sabda Tuhan yang disebut juga Catur Weda sumber tertinggi ajaran Hindu yang syair sucinya disebut Mantra. Selanjutnya Smrti yaitu sumber kedua berupa tafsir para para maharesi terhadap Sruti. Tafsir atau Smrti itu ada empat yaitu untuk menuntun penganut pada tiap-tiap jaman.

Ada Smrti untuk jaman Kerta Yuga ada untuk Tretya Yuga ada yang untuk Dwapara Yuga dan Kali Yuga. Pustaka Smrti ini dijabarkan lebih lanjut menjadi sumber ajaran Hindu yang tiga yaitu pustaka Sila yaitu Itihasa dan Purana yang isinya ceritra-ceritra tentang Sila atau prilaku yang sepatutnya di jadikan tauladan dan ada sila atau prilaku yang sepatutnya dihindari.

Karena itu Sarasamuscaya, 39 menyatakan: Ndan Sang Hyang Weda paripurnakena sira yan masaadhana Sang Hyang Itihasa Sang Hyang Purana. Artinya: Untuk memahami kesempur- naan Weda hendaknya melalui media Itihasa dan Purana.

Sosok Hindu yang keempat adalah “acara”. Kata acara artinya langgeng. Sarasamuscaya 177 menyatakan: Acara ngaraningprawrti kawarah Sang Hyang Aji. Artinya: Acara namanya pengamalan atau pentradisian apa yang dinyatakan oleh pustaka suci. Artinya acara itu adalah praktek keagamaan dari isi Weda. Karena itu pustaka Manawa Dharmasastra, 1.108 menyatakan: Acara Paramo Dharmah. Artinya: Acara atau pengamalan Weda itu adalah dharma utama.

Di Bali acara inilah dalam era selanjutnya disebut adat. Pada hal adat dalam bahasa Arab artinya tradisi yang tidak ada hubungan dengan agama. Di Bali ada istilah “desa mawacara” artinya setiap desa memiliki tradisi (acara) nya masing-masing yang kadang-kadang berbeda-beda.

Ini artinya sosok Hindu yang tertinggi adalah Sruti sabda Tuhan, Smrti adalah tafsir para Resi, Sila adalah karya sastra para resi yang mengemas isi Weda Sruti dan Smrti dalam bentuk Itihasa dan Purana. Terakhir barulah acara atau Weda yang ditradisikan untuk mencapai Atmanastusti.

Mentradisikan Weda yang universal itu harus dengan lima pertimbangan seperti ditetapkan Manawa Dharmasastra, VII.10 yaitu: Iksha, Sakti, Desa, Kala, dan Tattwa. Iksha artinya harus disesuaikan dengan pandangan masyarakat setempat. Sakti artinya kemampuan masyarakat. Desa kebiasaan suci dan benar yang berlaku setempat. Kala disesuaikan dengan waktunya. Tattwa artinya tidak boleh bertentangan dengan intisari atau hakekat Weda.

Dari sinilah muncul pandangan Hindu itu mengenal berpikir universal dan bertindak lokal. Ini menyebabkan Hindu bentuk luarnya sangat lokal, tetapi inti Hindu di dalamnya itu dimana-mana sama universal berdasarkan Weda.

Karena itu Swami Siwananda menyatakan Hindu itu Sanatana Dharma yaitu kebenaran Weda yang kekal abadi tetapi bentuk luarnya Nutana, yang dalam bahasa Sansekerta artinya: baru, muda segar membahagiakan. Senantiasa ada pembaharuan tradisi penerapan Weda asal Iksha, Sakti, Desa, Kala dan Tattwa dasarnya.

Hakekat Weda adalah menanamkan secara mendalam pada penganut Weda atau penganut Hindu adalah kepercayaan yang mendalam pada Keberadaan, Kemahakuasaan dan Keesaan Tuhan. Dalam hal inilah muncul ajaran Tri Para Artha dalam Lontar Sang Hang Kamahayanikan 64: yaitu asih dan punia sebagai bentuk bhakti pada Tuhan.

Tri Para Artha ini tiga arah beragama Hindu yang terjalin satu dengan yang lainya. Artinya asih pada alam lingkungan dan punia yaitu manusia hidup bersama untuk saling mengabdi. Asih dan punia itulah bentuk bhakti manusia pada Tuhan. Inilah filosofi beragama Hindu di Nusantara sebagai pengamalan (acara) ajaran Weda.

Kalau filosofi asih punia sebagai bentuk bhakti pada Tuhan tentu keberadaan alam lingkungan akan lestari dan keberadaan masyarakat menjadi harmonis saling mengabdi. Keadaan alam dan keadaan masyarakat menjadi lestari seperti itu karena Bhakti manusia pada Tuhan.

Namun kenyataanya masih banyak yang perlu dibenahi. Demi bhakti pada Tuhan masih banyak yang menggunakan flora dan fauna sebagai bahan banten secara berlebihan meskipun sudah diingatkan dalam Manawa Dharmasastra, V.40 bahwa penggunaan flora dan fauna sebagai sarana upacara adalah bentuk doa agar flora dan fauna itu kelak menjelma lebih baik. Artinya tujuan penggunaan flora dan fauna itu untuk melestarikannya.

Tetapi karena kurang dipahami malahan penggunaannya berlebihan. Bali sampai ngimport beberapa sarana banten dari luar Bali dengan nilai triliunan rupiah pertahun. Di Bali banten dapat dibuat yang inti, yang menengah, dan yang besar.

Kalau asih itu diterapkan untuk melestarikan alam dan kebersihan lingkungan sebagai bentuk bhakti pada Tuhan tentunya Bali sangat indah lestari alam dan lingkungan bersih.

Demikian juga punia yang artinya hidup bersama saling mengabdi sebagai bentuk bhakti pada Tuhan. Kalau punia itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tentunya tidak ada keretakan dalam keluarga, banjar dan desa pakraman dan dalam lingkungan yang lebih luas.

Di Bali sistem sosial dalam membangun kebersamaan ada empat sistem yaitu kebersamaan keluarga, kebersamaan teritorial, kebersamaan profesi dan kebersamaan universal. Empat kebersamaan itu ditandai oleh adanya pemujaan dalam merajan keluarga, di Pura Kahyangan Tiga di desa pakraman dan Pura Penyarikan di Banjar, pemujaan di Pura Subak dan Pura Melanting dan pemujaan di Pura Kahyangan Jagat.

Hakekat kebersamaan itu untuk membangun kehidupan yang rukun dinamis dan produktif dalam artian membangun nilai-nilai spiritual dan nilai fisik materi secara seimbang dan berkelanjutan. Membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya.

Manusia yang utuh adalah sehat secara jasmani, tenang secara jiwani dan profesioanl.

Oleh: I Ketut Wiana
Referensi: Majalah Media Hindu, Edisi 174, Agustus 2018


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis