Kṣantavyaḥ: Ampuni

Oṁ kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ
kṣantavyo văciko mama
kṣantavyo mānaso doṣaḥ
tat pramādât kṣamasva maṁ

Terjemahan:
Om Hyang Widhi ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.


Bait keempat, kelima, dan keenam mantram Puja Tri Sandhya bersumber dari kumpulan mantra yang sama yaitu Ksamamaha-devastuti 2-5 (Titib, 2003 : 40), tersebar dalam Wedasanggraha. Bait keenam, berisi permohonan ampun atas segala dosa dari anggota badan, kata-kata, dan pikiran. Pemuja memohon kehadapan Sang Hyang Widhi sebagai Mahadewa yang merupakan sahabat semua makhluk, karena Mahadewa memiliki sifat maha pengampun atau ksama.

Kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ berarti ampunilah dosa anggota badan, hal ini terkait perbuatan atau karma yang dilakukan dengan anggota tubuh atau badan manusia. Sarasamuccaya, sloka 76 menguraikan ada tiga dosa anggota badan yang tidak patut dilakukan:

Pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va, 
Trini papani kayena sarvatah parivarjavet.

Terjemahan:
Inilah yang tidak patut dilakukan, membunuh, mencuri, berbuat zina, ketiganya janganlah hendaknya dilakukan terhadap siapapun baik secara berolok-olok, dalam keadaan dirundung malang, dalam hayalan sekalipun, hendaknya dihindari semua itu.

Membunuh, mencuri dan berzina merupakan tiga dosa anggota badan yang patut dihindari. Raja Drstarastra yang buta konon dalam kelahiran sebelumnya pernah membunuh 100 ekor anak burung, oleh karena itulah menyebabkan ia mengalami penderitaan dengan menyaksikan kematian 100 korawa, putra-putranya dimedan perang. Karena mencuri biji-bijian menyebabkan seseorang lahir menjadi orang cebol. Bagi orang yang berzina akan menyebabkan seseorang lahir berumur pendek, dan menderita epilepsi. Demikian Agastya parwa menjelaskan tentang karma dari seorang pencuri dan orang yang suka berzina.

Kṣantavyo văciko mama artinya: ampunilah dosa perkataan. Ada empat dosa perkataan yang tidak patut dilakukan menurut Sarasamuccaya sloka 75:

Asatpralapam parusyam paisunyamanrtam tahta,
Catvari vaca rajendra na jalpennanucintayet.

Terjemahan:
Inilah yang tidak patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya yaitu: perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan memfitnah, perkataan bohong, inilah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan jangan diucapkan jangan dipikir-pikir akan diucapkannya.

Perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan memfitnah, perkataan bohong merupakan bencana bagi siapa saja yang telah mengeluarkanya, seperti anak panah yang melesat yang tidak dapat ditarik kembali. Kata-kata yang yang bersumber dari hati yang jahat serta perkataan kasar akan menyakitkan siapa saja yang mendengar, demikian pula mampu mencelakai siapa saja yang mengucapkan. Pepatah mengatakan fitnah lebih kejam dari membunuh, maksudnya rasa sakit hati yang ditimbulkan akibat fitnah sungguh tak terhingga. Demikian pula satu kebohongan menimbulkan kebohongan berikutnya. Kebohongan memberikan jalan kepada pelaku terjerumus dalam kehidupan yang serba ketakutan, sebab sipelaku akan berfikir kapan kebohongannya akan terbongkar.

Kakawin Niti Sastra 5.3 menyebutkan: wasita nimitanta manemu laksmi, dengan kata-kata orang bisa mendapatkan kekayaan; wasita nimitanta pati kapangguh, dengan perkataan juga orang bisa menemui ajalnya; wasita nimitanta manemu duhkha, dengan perkataan orang bisa menemui kesengsaraan; wasita nimitanta manemu mitra, dengan perkataan orang akan mendapatkan kawan baik.

Kṣantavyo mānaso doṣaḥ artinya: ampunilah dosa pikiran. Sarasamuscara sloka 74 menguraikan sedikitnya ada tiga hal terkait dosa pikiran.

Anabhidyam parasvesu sarvasatvesu carusam,
Karmanam phalamastiti trividham manasa caret.

Terjemahan:
Keinginan untuk memiliki hak milik orang, kebencian pada mahluk hidup, dan ketidak percayaan pada hukum sebab akibat, inilah produk pikiran yang harus dikendalikan.

Menginginkan milik orang lain, merupakan awal dari rasa iri hati, yang akan menjerumuskan pada perbuatan yang tidak baik. Pikiran memegang peranan besar bagi tindakan berikutnya, oleh karena itu segala perbuatan berawal dari pikiran. Ketika pikiran untuk memiliki sesuatu yang bukan haknya tak mampu dikendalikan inilah yang memicu seseorang bisa mencuri, merampok, atau menipu. Ikatan pikiran yang melekat pada hal-hal duniawi adalah penyebab utama dari berbagai tindakan tidak terpuji.

Benci kepada makhluk lain menimbulkan sikap antipati, seolah menang sendiri, dan tidak dapat hidup bersama, berperilaku kejam tanpa kontrol yang dapat menimbulkan kekacauan. Hindu tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lainya, karena seluruh alam semesta adalah satu keluarga yang tertuang dalam kalmat Vasudhaiva Kutumbakam. Tentu berbeda dengan saudara kita yang menganggap orang yang tidak seiman atau seagama disebut sebagai kafir. Penerapan dari ajaran kasih sayang pada semua makhluk tertuang dalam doa universal loka samasta sukino bhavantu (semoga semua makhluk berbahagia).

Ketidak percayaan pada hukum karmaphala dapat menimbulkan perilaku menyimpang dari dharma. Orang yang berfikir bahwa perbuatan tidak akan menimbulkan akibat bisa saja terjerumus dalam perbuatan berdosa atau papa. Hal ini akan membawa dampak meningkatnya kejahatan dalam masyarakat. Karena itu penting artinya mempercayai hukum karma untuk menjaga keseimbangan dunia ini agar tetap terlindungi oleh dharma. Bahwa setiap perbuatan pasti ada hasilnya merupakan hukum mutlak yang berlaku bagi semua orang.

Kaya wak dan manah disebut trikaya dalam kitab Sarasamuccaya sloka 157 hendaknya ketiganya tidak digunakan untuk menyakiti atau membunuh makhluk lain.

Adrohah sarvabhutesu kayena manasa giro, 
Anugrahasca danam ca silametadvidurbudhah.

Ikang kapatyaning sarwabhawa, haywa jugenulahaken, makasadhanang trikaya, nang kaya, wak manah, kunang prihen ya ring trikaya anugraha lawan dana juga, apan ya ika sila ngaranya, ling sang pandita.

Terjemahan:
Yang membuat matinya segala makhluk hidup, sekali-kali jangan hendaknya dilakukan dengan menggunakan trikaya, yaitu perbuatan, kata-kata dan pikiran. Adapun yang harus diikhtiarkan dengan trikaya, hanyalah pemberian dan sedekah saja, sebab itulah yang disebut sila, kata orang arif.

Namun dalam prakteknya manusia sering lalai sehingga melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Hal ini bisa saja terjadi karena manusia diliputi sad ripu yaitu enam musuh yang ada di dalam diri manusia. Pengaruh sad ripu yang besar menimbulkan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan dharma. Karena itulah kelalaian manusia bersumber dari dalam dirinya, yang melupakan dirinya sebagai makhluk yang utuh yaitu terdiri atas jiwa dan raga. Manusia terdiri atas jiwa maksudnya jiwa itu sesungguhnya suci dan bersih, namun terbungkus oleh wasana yang membelenggu sehingga tidak nampak keaslianya. Manusia hidup dengan menggunakan badan sehingga manusia memiliki kewajiban terhadap sesama, untuk mewujudkan hidup yang harmonis. Untuk kesalahan yang tidak disengaja karena kelalaian kita perlu memohon pengampunan, tat pramādât kṣamasva maṁ: ampu- nilah hamba dari kelalaian hamba.

Oleh: Gde Adnyana
Source: Majalah Wartam Edisi 47


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis