Anahata Chakra

“Chakra hati (jantung, heart) dihormati sebagai pusat bhakti (pengabdian) dan transformasi dalam banyak tradisi spiritual. Ia bersinar seperti permata di pusat tulang belakang, dengan tiga chakra di atas dan tiga cakra di bawah. Ini disebutkan dalam kitab suci Tantra, Purana dan Veda dengan beberapa nama yang berbeda. Sufi dan mistik dari tradisi lain menginstruksikan murid-murid mereka untuk memvisualisasikan cahaya yang jelas di dalam hati ketika memulai praktik meningkatkan kekuatan Kundalini dan memasuki tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Di sinilah nada anahata — suara kosmik yang tak bergerak — dihasilkan. ” Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

Dalam chakra ini kita mulai mengalami keseimbangan antara energi pria dan wanita, yang dilambangkan oleh hexagram, yang merupakan penggabungan dua segitiga. Tindakan dan pikiran difokuskan untuk mencapai keseimbangan ini. Di sini kita memiliki pengalaman pertama dengan Yang Suci, yaitu anahata, artinya “tidak terhalang,” “tidak terluka” atau “tidak terkalahkan”. Kita merasa bahagia. Chakra ini dominan untuk perempuan antara usia 18 dan 24 tahun dan laki-laki usia 21 hingga 28 tahun. Untuk ibu-ibu anahata terbuka secara otomatis. Sifat hewan di sini digambarkan dengan baik oleh antelope hitam. Ia berjalan dengan gelisah tetapi selalu dalam sukacita, mencari sumber bau harum (musk) yang berada di pusarnya sendiri.

Bergabung dengan ashram, biara atau organisasi yang melayani kebaikan kosmik, kita mengalami kondisi keseimbangan dan kesatuan yang bahagia dengan semua. Bermeditasi dengan kelompok membantu kita mencapai level grup. Dalam chakra ajna kita bermeditasi sendiri untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Dalam chakra anahata kita mengalami sesuatu yang kita sukai, tetapi lebih banyak studi diperlukan. Kita resah untuk menemukan sumber kebahagiaan, mencari di mana-mana dengan penuh kesenangan di hati kita.

Dalam tiga chakra pertama, ego terhubung dengan dunia material, untuk keamanan, keindahan luar dan nama dan ketenaran dunia. Di sini, di chakra keempat, ego terbuka untuk tujuan yang lebih besar, dan bukannya egois, ia merasa satu dengan semua. Orang suci dan orang yang suka kesucian tinggal di sini. Di sini kita dapat mencapai keseimbangan antara idealisme dan materialisme, pemikiran tinggi, dan tindakan kreatif.

Seperti halnya antelop, kita menemukan bahwa sukacita ini ada di dalam diri kita. Di pusat anahata kita akan menemukan chakra tambahan, ananda kanda, hati spiritual kita. Dalam semua kondisi, bangun dan bermimpi, Diri kita yang abadi selalu ada, selalu bertugas untuk melayani semua. Terkadang kita mungkin mengalami kehadiran ini dan mengambil tindakan tanpa pamrih.


Secara bertahap pemahaman kita tentang Diri abadi kita menjadi lebih jelas. Seperti Sadasiva, ia muncul dalam Bana Lingam sebagai dermawan abadi yang memiliki belas kasih bagi setiap makhluk. Dari-Nya kita menerima kekuatan bahasa, yang dengannya kita mengekspresikan pemahaman kita tentang dunia kausal. Dari sinilah muncul inspirasi untuk menulis. Dia adalah guru di dalam diri kita yang bekerja sebagai hati nurani kita, suara batin yang menginspirasi yang menyertai kita setiap langkah dalam hidup kita. Memperingatkan ketika kita membuat kesalahan, kita mulai memahami karakter sejati kita dan menginternalkan kode moral (yama dan niyama). Ini membawa kita ke dalam kebahagiaan abadi di balik segalanya.

Kebahagiaan abadi adalah sifat dari Dewa utama chakra ini: Ishana Rudra Siva, sang yogi utama dan sumber kebaikan. Ada keseimbangan dan harmoni di dalam dan di luar kita. Kita menikmati hubungan murni. Kita menerima, dalam chakra ini, instruksi spiritual pertama dari guru, ashram atau organisasi kita. Sambil melatih mereka, kita mencapai keseimbangan dan mengalami kebahagiaan. Shakti yang membuka pintu bagi kita adalah Kakini.

Kelopak teratai dari chakra ini mewakili 12 modifikasi mental: harapan, kecemasan, upaya, kepemilikan, keangkuhan, ketidakmampuan, diskriminasi, egoisme, nafsu, kecurangan, ketidaktegasan dan penyesalan. Psikodrama masih berlangsung; tetapi dengan bantuan Kakini kita mulai melihat modifikasi ini sebagai ketidaksempurnaan yang diciptakan oleh keterikatan kita sendiri.

Kita ingin sekali untuk lebih menguasai pikiran ini. Pranayama dan kumbhaka (menahan napas) membantu menenangkan pikiran. Ketika tidak ada nafas, tidak ada pikiran. Ketika nafas lambat, pikiran menjadi lambat. Ketika kita hanya berkonsentrasi pada nafas, kita dapat mengalami sedikit waktu tanpa pikiran. Ketika kita melakukan sadhana, atau latihan spiritual, kita dapat memperpanjang konsentrasi dan mengalami meditasi.

Kemudian alih-alih memegang identifikasi yang salah dengan dunia maya, Kakini dapat menunjukkan kepada kita permainan suci (lila) dalam ilusi yang tampaknya kacau ini (maya) yang diciptakan oleh Wisnu. Juga Dia bersemayam di dalam hati spiritual kita dalam bentuk Narayana, atau inkarnasi manusia. Untuk menemukan Dia hidup kita harus menjadi ibadah ketika melakukan tugas kita (karma yoga) dalam keluarga dan masyarakat. Maka itu menjadi lila (leela), permainan suci.

Agama sekarang menjadi terinternalisasi. Mengikuti jalan spiritual diperlukan untuk menemukan kedalaman lila. Menyerahkan diri kepada seorang guru yang telah mengikuti jalan itu sangat membantu untuk memiliki keyakinan di jalan itu dan untuk menghapus ketidaktahuan yang membuat maya terlihat begitu nyata. Untuk mencapai hal ini kita membutuhkan bhakti atau devosi spiritual, esensi dari chakra ini. Untuk mengalami bhakti ini,

Kakini membawa kepada kita bentuk-bentuk seni dan kerajinan devosional dan spiritual serta kesenangan mereka. Seni duniawi dari chakra kedua diubah menjadi kesaduan dan seni yang terinspirasi dari chakra keempat.

Dewi terakhir, Kundalini Shakti, mewakili pengabdian atau bhakti ini. Sekarang Dia duduk di segitiga yang mengarah ke atas. Dalam chakra pertama Dia adalah ular yang berbahaya. Di sini Dia menjadi Dewi. Dia mewakili sisi kesaduan (kesucian) dari ego kita, yang merindukan persatuan dengan Tuhannya, atau Diri abadi kita. Ini seperti Radha dengan cinta sucinya-Nya bagi Krishna. Kita tidak lagi menjadi korban keinginan yang terhubung dengan dunia material ketika kita mampu menyerahkan ego kita. Kemudian kita dapat mengalami cinta suci (prema) di mana-mana, dalam segala hal dan untuk semua orang.

Untuk melanjutkan jalan kita, Kundalini Shakti memberi kita alat-alat penting. Sebagai Dewi wicara dan suara, mewakili anahata nada atau suara kosmik, Dia menyediakan kita dengan 50 matrika dan semua mantra. Dalam pengaturan (penyesuaian) grup, kita belajar untuk bermain dengan mereka. Bhajan dapat membantu kita mengalami dunia yang damai dan bahagia tanpa pikiran. Tidak ada lagi penghakiman nilai (value judgment), terhadap orang lain, tetapi pikiran yang terbuka. Kita siap memasuki chakra kelima untuk mempelajari lebih lanjut tentang suara-suara ini.

Bija-mantra utama di sini adalah ham. Itu membuat suara manis dan merdu. Suara biji kelopak adalah am, im, mm, um, um, rm, rm, lrm, lrm, em, aim, om, aum, anusvara itu sendiri dan ah. Di sini kita bisa, seperti burung merak, menjadi sangat bangga dengan pengetahuan kita — atau ditangkap oleh suara, seperti seekor rusa di India terseret ke dalam perangkap oleh musik sending.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 175, September 2018

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis