Manipura Chakra

“Kata chakra juga menunjukkan gerakan. Chakra memperkenalkan gerakan karena mereka mengubah energi psikofisik menjadi energi spiritual. Energi psikofisik hersifat elektrokimia, dan bekerja dengan bantuan prana. Prana adalah energi yang menciptakan kehidupan, materi, dan pikiran. Kata prana berarti 'kekuatan hidup yang vital’. Meskipun organisme kita menarik prana melalui lubang hidung ketika kita bernafas, energi prana dinamis tidak didasarkan pada sistem fisio-kimia tubuh; itu beroperasi secara super-fisik, melalui sistem ‘nirkabel’ daripada melalui sistem saraf.”

“Chakra aktif setiap saat, apakah kita sadar atau tidak. Energi yang dipengaruhi oleh unsur-unsur — bumi, air, api, udara, dan akasha — bergerak melalui cakra-cakra, menghasilkan kondisi-kondisi psikis yang berbeda. Unsur-unsur ini (tattva) terns bergerak dengan nafas di dalam tubuh dan mempengaruhi temperamen seseorang. (Perubahan ini dipahami oleh ahli neurobiologi sebagai perubahan kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kelenjar tanpa duktus yang sekresinya bercampur ke dalam aliran darah tubuh secara langsung dan seketika). Dengan pelatihan, adalah mungkin untuk mengamati diri sendiri dan melihat energi yang bergerak melalui berbagai pusatpsikis ini”. Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

“Chakra Manipura ini meliputi bidang-bidang karma, tindakan baik, pengampunan atas kesalahan seseorang, teman baik, teman buruk, pelayanan tanpa pamrih, kesedihan, dharma dan wilayah langit/sorga. Itu adalah tempat dari elemen api, yang bermanifestasi sebagai penampilan marah, temperamen yang berapi-api dan kepribadian yang gagah. Ia juga merupakan pusat gravitasi tubuh. Perilaku orang dengan chakra ketiga ini dimotivasi oleh keinginan untuk identifikasi, pengakuan, kekuasaan, dan kondisi kehidupan yang lebih baik”.

Dalam chakra manipura kita memasuki dunia permainan besar (big games), karena kita terlibat dalam politik, organisasi, struktur sosial, ekonomi dan lainnya. Nama dan ketenaran adalah ambisi utama kita selama waktu chakra ini dominan — usia 12-18 untuk wanita dan 14-21 untuk pria.

Simbol untuk chakra ini adalah segitiga menunjuk ke bawah, yang mewakili energi api, yang bisa memurnikan, tetapi juga merusak. Kecenderungan di sini adalah ke bawah, ke arah pemanfaatan dua chakra pertama dan menghalangi energi untuk mengalir ke atas. Di sini kita menemukan simpul pertama (brahma granthi), yang mengikat kita pada dunia material dan fisik.

Api terkait dengan matahari, yang merupakan planet penguasa chakra ini. Chakra ini memberi kita kemampuan intelektual untuk mengatur, menyusun, dan mengelola. Pada tingkat kesadaran inilah masyarakat terbentuk. Kebutuhan makanan dan tempat tinggal terpenuhi, dan aspirasi dari chakra kedua dibuat praktis. Secara pribadi, kita mampu menstabilkan hidup kita.

Pada saat yang sama, psikodrama yang diciptakan sendiri menjadi lebih kompleks dan kita menjadi lebih terikat. Harga yang dapat kita bayar terlihat dalam modifikasi mental dari chakra dengan sepuluh kelopak daun bunga ini: ketidaktahuan spiritual, kehausan (akan harta, tahta dan seks) kecemburuan, pengkhianatan, rasa malu, takut, jijik, khayalan, kebodohan, dan kesedihan.

Sifat hewan dari chakra ini adalah domba. Sementara domba adalah salah satu mamalia yang paling lembut, domba jantan, dengan serangan kepalanya yang terkenal, adalah simbol kekuatan dan agresi. Dia adalah kendaraan Agni, Dewa Api. Dalam chakra ini kita merasa sangat istimewa. Ego mengambil bentuknya yang matang di sini. Dalam chakra pertama kita berperilaku sebagai bawahan, dan dalam chakra yang kedua kita ditundukkan oleh jenis kelamin lainnya (nafsu seks).


Di dalam manipura, ego — jika dibiarkan tanpa terkendali — sangat egois, siap untuk mengorbankan segala sesuatu dan semua orang, termasuk keluarga dan teman-teman. Dengan menggunakan energi ini, bersama dengan orang-orang yang berpikiran sama, kita mengatur diri kita sendiri dan mengalami kekuatan untuk mengendalikan. Sementara kekuatan ini bisa merusak, tanpa itu masyarakat tidak bisa berkembang. Kita membutuhkan kekuatan ini untuk mengatur dan menyusun struktur.

Untuk mengendalikan ego yang mementingkan diri sendiri ini, kita menemukan dalam chakra ketiga Dewa yang garang dan perkasa: Braddha Rudra, Yang Menangis. Ketika kita terlalu terikat dengan dunia nama dan ketenaran kita, hanya kekuatan Rudra yang bisa menghentikan kita. Rudra tidak memberi berkah seperti Dewa lain yang memerintah chakra. Dia campur tangan secara paksa untuk menunjukkan kepada kita realitas di balik kehidupan duniawi. Ketika Vishnu menghidupkan, Rudra menghadapi kita dengan kematian, yang dapat mengakhiri kerajaan ego. Tetapi kematian tidak ada akhirnya! Itu hanya perubahan. Dan ego tidak suka perubahan.

Namun, karma kita tidak dapat tetap berpusat pada diri sendiri. Ini adalah salah tafsir atas realitas. Bahkan ketika kita tidak tahu tentang kebenaran, kebenaran tetap merupakan Kebenaran dan tidak pernah berubah. Jadi, lebih baik memahami kebenaran ini. Dan perjalanan panjang ke atas dapat dimulai. Meditasi pada Rudra membantu.

Dewi welas asih berkepala tiga, Lakini, menunjukkan kepada kita keindahan chakra ini. Setelah bidang fisik dan mental (astral), bidang pikiran (selestial) ditemukan. Alih-alih mengeksploitasi dunia, kita melihat bahwa kita dapat menggunakan kekuatan baru yang kita temukan untuk memfokuskan energi dari dua chakra pertama untuk kepentingan semua orang. Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan surga di Bumi. Di sini agama mengambil bentuk, yang dapat membuat hidup harmonis dengan alam menjadi lebih praktis. Lakini menunjukkan bahwa dengan mengorganisir masyarakat kita dapat meningkatkan tingkat spiritual massa. Orang-orang suci atau maharsi suka bekerja dalam cakra ini untuk menginspirasi masyarakat manusia.

Untuk memiliki pikiran yang jelas dan terbuka, kita membutuhkan latihan spiritual yang intens. Kemudian api tapasya bisa menjadi pembersih yang hebat. Kita perlu menenangkan pikiran kita, mengendalikan pikiran kita. Dan kita harus mulai di suatu tempat. Jika tubuh tidak bebas, pikiran tidak bisa bebas. Jika tubuh tenang, pikiran juga memiliki kesempatan untuk menjadi tenang.

Di sini asana menjadi penting, seperti yang dijelaskan oleh Rishi Patanjali. Kita harus menemukan asana atau postur di mana kita bisa duduk untuk waktu yang lama. Untuk ini, disiplin dibutuhkan. Seni bela diri dan olahraga lainnya sangat membantu. Dengan kontrol yang lebih besar terhadap tubuh kita, segitiga api itu dapat mulai bergerak ke chakra yang lebih tinggi.

Perbuatan baik dan layanan tanpa pamrih adalah dua alat penting lainnya untuk mengubah ego kita menjadi makhluk spiritual yang melayani masyarakat. Ketika kita berfokus pada kebaikan kosmik, kita mengikuti dharma, atau kebenaran, dan dharma tertinggi melakukan kebaikan bagi orang lain. Hanya dengan begitu kita bisa mulai merasa satu dengan semua.

Menggunakan energi chakra ini dengan tepat, kita bisa menjadi pribadi yang menginspirasi, bersinar, dan penuh kasih yang hanya memikirkan kepentingan orang lain. Di sini kita menemukan penyelamat dunia, yang membuat cakra manipura (secara harfiah, Kota Permata) bersinar berseri-seri. Pada tahap ini, chakra keempat, di mana Siva memerintah sebagai dermawan abadi, dapat dicapai.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 173, Juli 2018


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis