Vishuddha Chakra

“Vishuddha adalah chakra kelahiran kembali spiritual. Ini meliputi lima bidang: fisik, astral, selestial (angksa), keseimbangan, dan manusia. Ini juga termasuk jnana, kesadaran yang menganugerahkan kebahagiaan; prana, kekuatan hidup yang vital di seluruh tubuh yang membawa keseimbangan semua elemen; apana, udara yang membersihkan tubuh dan diisi dengan ion negatif; dan vyana, udara yang mengatur aliran darah. Bidang atau wilayah manusia (jana loka) menjadi vital, diperkaya dengan mantra, suara musik, dan enam belas kualitas harmoni (vrittis)”. Harish Johari

(sumber foto wikipedia)

Kita memasuki dunia akasha, ruang atau kehampaan, elemen paling murni, di mana empat elemen lainnya muncul. Akasha muncul dari nada, suara kosmik murni, dilambangkan dengan bulan sabit. Diwakili oleh lingkaran, akasha memiliki banyak bentuk — mulai dari ruang di antara atom hingga kehampaan dalam bejana, dan dari ruang halus yang diciptakan oleh pengulangan-mantra sampai kehampaan kosmik tertinggi, di mana tidak ada apa pun kecuali ruang.

Pada tingkat ini kita bersentuhan dengan pengetahuan murni, yang kita perlukan untuk melepaskan Wisnugranthi, simpul yang mengikat kita pada keragaman di dalam persatuan. Dalam chakra ini kita menemukan kesatuan dalam keragaman. Vishuddha mendominasi antara usia 24 dan 30 untuk wanita dan 28 dan 35 untuk pria.

Dalam chakra anahata kita menemukan keindahan, kebaikan dan kebenaran di luar diri kita. Sekarang, dalam chakra kelima, kita menjadi tahu bahwa Yang Suci ada di dalam kita, bahwa kita suci; sebagaimana di luar, demikian juga di dalam. Ketika tidak lagi terganggu oleh kebisingan luar, kita mendengar suara batin kita sendiri: detak jantung, pernapasan, cairan dan gas. Orang yang terbangun akan mendengar musik, mantra dan nada-nadi shakti yang kuat, yang terdengar seperti seribu vina yang bermain di kejauhan, atau keriapan lebah madu di dekat kita.

Para rsi dari dunia kuno membedakan suara dasar untuk menciptakan matrika, 50 huruf dari abjad Sanskerta. Satu matrika terhubung ke masing-masing dari 50 kelopak teratai di enam chakra pertama. Bekerja dengan suara-suara ini adalah salah satu cara terbaik untuk menyeimbangkan chakra.

Mulailah dengan chakra pertama dan bergerak ke atas, satu chakra pada satu waktu, berakhir dengan Aum di ajna. Meditasi ini membuat seseorang merasa membumi, berpijak kokoh, dan siap untuk bermeditasi pada mata ketiga. Di sini kita menjadi sadar bahwa semua pengetahuan ada di dalam diri kita.


Sifat binatang gajah, yang berlaku dalam chakra ini, juga menunjukkan pengetahuan. Setelah chakra ini, tidak ada lagi hasrat hewan. Kekuatan gajah, simbol pengetahuan di sini, diperlukan untuk menghadapi dunia indra. Dari gajah kita bisa belajar bersabar, memiliki kepercayaan diri, mengingat apa yang telah kita pelajari dan menikmati kesatuan kita dengan alam.

Dengan kebijaksanaan ini kita dapat bertahan hidup di dunia material. Tetapi untuk melangkah lebih tinggi kita membutuhkan seorang guru. Dewata dari chakra ini adalah Panchavaktra Siva. Dalam Tuhan berwajah lima ini kita menemukan guru, yang membantu kita menyadari sifat sejati kita. Kegelapan spiritual kita berakhir di chakra ini, yang merupakan sumber dari semua ajaran dharma besar. Pada tahap ini Siva mengungkapkan kasih karunia-Nya dan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak pernah terpisah dari-Nya.

Ini adalah chakra guru spiritual. Bahkan mereka masih memiliki tantangan, keterikatan pada keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, keterikatan pada posisi yang masih duniawi ini. Dan bahkan ada bahaya untuk menyalahgunakan pengetahuan mereka atau berhenti mempraktikkan ajaran itu sendiri. Dalam pakaian sederhana Siva kita dapat mengumpulkan aksioma yang paling penting untuk chakra ini: hidup sederhana dan pemikiran yang tinggi. Simple living and high thinking. Tanpa gangguan dari dunia kemewahan, kita lebih mampu membuat dorongan yang tak terikat.

Shakini, yang sangat mirip Saras- vati, adalah penjaga pintu untuk cakra vishuddha. Dia mewakili pengetahuan di balik pendidikan dan seni rupa, dua alat penting dalam chakra ini, tidak hanya pendidikan sekolah, tetapi juga pendidikan budaya, belajar menjadi ayah atau ibu yang baik, saudara laki-laki atau perempuan, teman dan tetangga. Seni tertinggi adalah seni hidup.

Seni dan kerajinan tangan adalah bagian dari dan mendukung pendidikan budaya. Untuk menguasainya kita perlu meningkatkan konsentrasi kita. Dalam seni dan kerajinan kita belajar dengan cara yang menyenangkan untuk menarik diri dari indra. Saat membuat, kita melupakan semuanya dan fokus pada satu subjek. Pada saat itu tidak ada ego, dan seni bisa menjadi inspirasi.

Lalu kita bisa bermain dengan mimpi dengan cara yang kata-kata tidak bisa. Atau kita menggunakan puisi. Sebagian besar teks-teks religius ditulis dalam gaya puitis atau kisah-kisah seperti mimpi dengan pesan-pesan tersembunyi yang mendalam. Shakini memperkenalkan kita kepada dunia keheningan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata, dan mengungkapkan pentingnya pesan non-verbal, seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah.

Pengetahuan belum sepenuhnya terwujud dalam chakra ini. Kita telah menjadi sadar akan keberadaannya, tetapi kita masih berada di dunia hasrat dan karma yang mereka ciptakan. Ketika kita menemukan pengetahuan, ketidaktahuan juga muncul. Itu bukan di alam, tetapi di dalam diri kita, di dalam pikiran kita. Banyak pendidikan diperlukan, dan Shakini ada di Sana untuk memberikannya.

Dalam chakra kelima kita menjadi sadar bahwa untuk mengendalikan indra, kita harus mengendalikan pikiran kita. Patanjali menyebut ini pratyahara, penarikan indra. Kita semua tahu betapa sulitnya ini. Mencari kontrol, kita melatih penarikan indera dalam meditasi. Kita juga melatihnya dalam seni rupa dan karma yoga kehidupan sehari-hari.

Ketika kita sangat terlibat dengan musik, melukis, memahat, animasi, berkebun, memasak, perencanaan dan pengorganisasian, tidak ada yang lain. Setiap kali kita terserap dalam sesuatu, penarikan indra terjadi. Kita belajar bahwa konsentrasi yang dalam dengan daya serap sempurna ada dalam genggaman kita.

Kita dapat bekerja lebih langsung lagi dalam mengendalikan pikiran dengan menggunakan penahanan nafas (kumbhaka). Di sini tujuan utamanya adalah untuk menarik pikiran dalam Diri. Latihan lain untuk tetap fokus pada Diri adalah japa, atau pengulangan-mantra. Setelah bertahun-tahun belajar mendalam, kita siap untuk beberapa praktik sesungguhnya dalam chakra ajna.

Haus untuk pengetahuan sejati, pencari memasuki dunia para guru. Pustaka suci dipelajari pada tahap ini, teks-teks suci yang mengandung semua pengetahuan masa lalu, yang diwakili oleh gajah. Di sini puisi dan filsafat spiritual disusun. Dalam karya seni ini, Pieter telah melukis tiga figur dari kehidupannya sendiri: Harish Johari, gurunya, di tengah; Narmada Puri, seorang sadhu dan guru Jerman, di sebelah kanan; dan di sebelah kiri Santoshpuri, seorang tuan legendaris.

Diterjemahkan: Sang Ayu Putu Renny dari Hinduism Today, April/May/ June 2018
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 176, Oktober 2018

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis