Pengertian, Pengelompokan, dan Struktur Pura

Prāsādaṁ yacchiva śaktyātmakaṁ
Tacchaktyantaiḥ syādvisudhādyaistu tatvaiḥ,
Śaivi mūrtiḥ khalu devālayākhyetyasmād
Dhyeyā prathanaṁ cābhipūjyā.

(Īśānaśivagurudevapaddhati, III.12.16)

Artinya:
Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Śiva dan Śakti dan kekuatan/prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari element hakekat yang pokok, Pṛthivī sampai kepada Śakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Śiva merupakan sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.



Pengertian Pura
Isilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura berasal dari kata sanskerta itu berarti “kota” atau “benteng”, yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk menamani tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang. Pada zaman Bali Kuna dan merupakan data tertua ditemui di Bali, disebutkan di dalam Prasasti Sukawana A I tahun 882 M.

Di dalam Prasasti turunya A I tahun 891 M ada disebutkan “… sanghyang di Turun͂an” yang artinya “tempat suci di Turunyan”. Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A (tanpa tahun) disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api, dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk Dewa Karimana, tempat suci untuk Dewa Api, dan tempat suci untuk Dewa Tanda.

Pura seperti halnya meru atau caṇḍi (dalam pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa) merupakan symbol kosmos dari atau alam sorga (kahyangan), seperti pula diungkapkan oleh Dr. Soekmono pada akhir kesimpulan disertasinya yang menyatakan bahwa caṇḍi bukanlah sebagai makam, maka terbukalah suatu perspektif baru yang menempatkan caṇḍi dalam kedudukan yang semestinya (sebagai tempat pemujaan/ Pura). Untuk mendukung bahwa Pura atau tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat dilihat dai bentuk (struktur), relief, gambar, dan ornament dari sebuah Pura atau caṇḍi. Pada bangunan suci seperti caṇḍi di Jawa kita menyaksikan semua gambar, relief, dan hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk sorga, seperti arca-arca devatā, vahana devatā, pohon-pohon sorga (pārijāta, dan lain-lain), juga mahluk-mahluk suci seperti vidyādhara-vidyādharī dan kinara-kinarī, yakni seniman sorga, dan lain-lain.

Dalam perkembangan lebih lanjut kata Pura digunakan di samping kata kahyangan atau parhyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala menifestasinya) dan bhaṭṭāra atau dewapitara yaitu roh suci leluhur. Kendati demikian namun kini masih dijumpai kata Pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misalnya Amlapura atau kota asem (bentuk sanskertanisasi dari karang asem).

Meskipun istilah Pura sebagai tempat suci berasal dari zaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur di samping juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenalnya pada zaman neolithikum, dan berkembang pada periode megalithikum, sebelum kebudayaan India datang di Indonesia.

Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah, adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menggangap gunung (Mahameru) sebagai alam devata yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para devata.

Pengelompokan Pura
Dari berbagai jenis Pura di Bali dengan pengertian sebagai temoat suci untuk memuja Hyang Widhi/ dewa dan bhaṭṭāra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu; (1) Pura yang bersfungsi sebagai tempat untuk memuja Hyang Widhi, para devatā; (2) Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaṭṭāra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok Pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula Pura yang berfungsi gandha yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi/ dewa juga untuk memuja bhaṭṭāra. Hal itu dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tersebut telah mencapai tingkat śiddhadevatā (telah memasuki alam devatā) dan disebut bhaṭṭāra.

Fungsi Pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti; ikatan social, politik, ekonomi, genealogis (garis kelahiran). Bedasarkan atas ciri-ciri tersebut, maka terdapat beberapa kelompok Pura berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya, sebagai berikut:

1. Pura Umum
Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala menifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tergolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah Pura Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala, dan Pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah Pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pandita guru suci atau Dang Guru. Pura tersebut juga dipuja oleh semua umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama. Pura yang tergolong ke dalam karakter yang disebut Dang Kahyangan, yaitu: Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan, Pura Silayukti, Pura Lempuyang.

2. Pura Teritorial
Pura ini mempunyai ciri kesatua wilayah (territorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa. Ciri khas suatu desa pada dasarnya memiliki tiga buah Pura yang disebut Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Ada banyak macam Pura Dalem. Namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki setra (kuburan).

3. Pura Fungsional
Pura ini mempunyai karakter fungsional karena adanya ikatan kekaryaan, profesi yang sama dalam system mata pencaharian hidup seperti; bertani, berdagang, dan nelayan. Kekaryan karena bertani, mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Kemudian dalam ikatan kekaryan sebagai pedagang maka tempat pemujaannya disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

4. Pura Kawitan
Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura milik warga atau Pura Klen. Klen ini mempunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadya sehingga mereka disebut Tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family). Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau merajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan keluarga luas/besar disebut sanggah gede atau pamarajan agung.

Di dalam lontar Sivagama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura Ibu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih prthivi, dan setiap keluarga batih membuat palinggih kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci.

Tentang pengelompokan Pura di Bali, dalam Seminar Kesatuan Tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke-X tanggal 28-30 Mei 1994 ditetapkan kelompok Pura di Bali, sebagai berikut:

1. Bedasarkan atas fungsinya:
  • Pura Jagat, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa-Nya (manifestasinya).
  • Pura Kawitan, yaitu Pura sebagai sebagai tempat suci untuk memuja ātmāśiddhadevatā (roh suci leluhur).
2. Berdasarkan atas karakterisasinya:
  • Pura Kahyangan Jagat, yaitu Pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Kahyangan Jagat.
  • Pura Kahyangan Desa (teritorial), yaitu Pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa pakraman atau desa adat.
  • Pura Swagina (Pura Fungsional), yaitu Pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti; Pura Subak, Pura Melanting, dan sebagainya.
  • Pura Kawitan, yaitu Pura yang penyungsungnya ditentukan oleh ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal genelogis) seperti; sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, penataran, pedharman, dan yang sejenisnya.

Struktur Pura
Pada umumnya struktur atau denah Pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jaba pura atau jaba pisan (halam luar), jaba tengah (halaman tengah), dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga Pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halangan ;uar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti Pura Agung Besakih. Pembagian halaman Pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuawana agung), yakni: pembagian atas tiga bagian (halaman) itu adalah lambing dari triloka, yaitu: bhūrloka (bumi), bhuvaḥloka (langit), dan svaḥloka (sorga). Pembagian Pura atas dua halaman melambangkan alam atas (urdhaḥ) dan alam bahwa (adhaḥ), yaitu: ākāśa dan pṛthivī. Sedang pembagian Pura atas tujuh bagian atau halaman atau tingkatan melambangkan saptaloka, yaitu tujuh lapisan/ tingkatan alam atas, yaitu; bhūrloka, bhuvaḥloka, svaḥloka, mahāloka, janaloka, tapaloka, dan satyaloka. Dan Pura yang terdiri satu halaman adalah simbolis dari ekabhuvana, yaitu penunggalan antara alam bawah dan alam atas.

Pembagian halaman Pura umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan prakeṛti (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis purusa (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta).

Sebuah Pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker) sebagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah padurakṣa (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpālaka). Pada halaman jaba pisan (halam luar) terdapat bangunan berupa bale kulkul (bale tempat kentongan digantung), bale wantilan (semacam auditorium tempat pementasan kesenian), bale pawaregan (dapur), jineng (lumbung). Halam kedua jaba tengah (halam tengah) biasanya berisi bangunan bale agung (bale panjang) dan bale pagongan (bale tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam), halam ini merupakan halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya bersthana. Di antara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung.

Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung, terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaaan atau jaba pisan). Candi bentar ini adalah simbolis pencahnya gunung Kailāsa tempat bersemadhinya dewa Śiva. Dibagian kiri dan kanan candi bentar terdapat arca Dvārapāla (patung penjaga pintu, bahasa Bali ngapit lawing), berbentung raksasa yang berfungsi sebagai pengawal Pura.

Pintu masuk halaman jeroan disamping disebut kori agung, juga dinamakan gelung agung. Kori agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di Pura. Untuk penyungsung (pemilik Pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar masuk ke jeroan, tapi biasanya menggunakan jalan kecil yang disebut bebetelan yang terletak disebelah kiri dan kanan kori agung.

Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) terdapat juga arca Dvārapāla yang biasanya bermotif acra deva-deva. Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala rakṣasa, yang pada Pura atau candi di India disebut Kīrttimukha, pada ambang candi pintu masuk candi di Jawa Tengah disebut Kāla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Bānaspati, dan di Bali disebut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomāntaka (matinya Sang Bhoma) dapat dijumpai di Kakawain Bhomāntaka atau Bhomakāwya. Bhoma adalah Putra Deva Viṣṇu dengan ibunya Dewi Pṛthivī yang berusaha mengalahkan sorga dan akhirnya dibunuh oleh Viṣṇu sendiri. Menurut cerita Hindu, penempatan kepala rakṣana Bhoma atau Kīrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang mermaksud jahat masuk ke dalam Pura, dihalangi oleh kekuatan rakṣasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk ke dalam Pura akan memperoleh rakhmat-Nya.

Sumber: Buku Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu


Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Anonim
6 Juli 2019 12.37

Terima kasih pengetahuannya :)

6 Juli 2019 12.41

Terima kasih kembali, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan dan kepustakaan kita. Rahayu

Posting Komentar

 
Support : Satya Nara
Copyright © 2011. Hindu Menulis
Published by Hindu Menulis